Apa Itu FMCG (Fast Moving Consumer Goods) ?

Apa itu FMCG (Fast Moving Consumer Goods) ?

Perkembangan ritel di Indonesia yang semakin pesat didasarkan pada keinginan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan setiap pelanggannya. Dalam membeli barang atau jasa, seseorang akan mengambil keputusan yang didasarkan atas keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). Keputusan akan semakin kuat jika kebutuhan tersebut bersifat rutinitas dalam memenuhi kebutuhan keluarga. 

Pesatnya perkembangan ritel juga didukung oleh jumlah penduduk Indonesia yang sangat tinggi dan 72% merupakan usia produktif. Dari keadaan tersebut, maka membuat Indonesia menjadi pasar yang paling potensial di Kawasan Asia Tenggara. 

Industri ritel modern untuk kategori Fast Moving Consumer Goods di Indonesia tumbuh dengan sangat pesat. Pertumbuhan tertinggi terjadi di segmen minimarket dan supermarket. 

Baca juga : Strategi Bisnis Distribusi Di Tengah Pandemic Covid-19: Retail Direct Order

Pengertian Fast Moving Consumer Goods (FMCG)

Pengertian Fast Moving Consumer Goods
source : unsplash.com

Sien Brierley, seorang penulis dan pebisnis asal Australia, menyatakan bahwa Fast Moving Consumer Goods merupakan barang-barang atau produk yang sering dibeli dan digunakan oleh konsumen. Misalnya gula, perlengkapan mandi (pasta gigi, tissue, kertas, sampo, sabun, dan sikat gigi), minuman (baik yang beralkohol maupun non-alkohol), rokok, koran, dan majalah.

Bisa dikatakan pula bahwa  Fast Moving Consumer Goods merupakan produk yang memiliki perputaran omset dengan cepat dan biaya produksi rendah. Produk memiliki masa simpan (kadaluarsa) yang relatif singkat karena memiliki sifat yang mudah rusak. Produk seperti ini mendorong para konsumen untuk tidak berpikir lama dalam menentukan pilihan pembelian. Maka dari itu, jenis produk FMCG sangat sering dibeli oleh konsumen, bahkan ada yang membeli dengan partai besar sekaligus. 

Berdasarkan pengertian dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa FMCG merupakan produk-produk yang sering digunakan oleh konsumen dan selalu dikonsumsi secara teratur. Contoh produknya yaitu gula, minuman, perlengkapan pribadi, koran, majalah, dan sebagainya.

Fast Moving Consumer Goods yang ada saat ini sangat banyak produknya, karena tingkat pertumbuhan penduduk dan kebutuhan yang terus naik. FMCG menjadi produk yang paling dibutuhkan oleh semua pengguna akhir (end users) untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. 

Baca juga : Retail Sebagai Bagian Penting Saluran Distribusi

Bentuk FMCG bisa dikategorikan dari berbagai aspek dan kebutuhan, misalnya dari keperluan pribadi (personal care), kebutuhan rumah tangga (household), minuman ringan, pembersih kamar mandi (toiletries), perlengkapan alat tulis (stationery), kosmetik, farmasi, paket makanan dan lain sebagainya. Produk-produk tersebut merupakan contoh beberapa hasil dari proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan di sektor industri ini. 

Industri FMCG telah dioperasikan oleh banyak perusahaan bertaraf nasional maupun multinasional. Setiap perusahaan tersebut selalu mengembangkan inovasi masing-masing, sehingga saat ini industri FMCG telah tumbuh pesat di setiap negara, termasuk di Indonesia. 

Kategori Produk FMCG

contoh product dari bisnis Fast Moving Consumer Goods
source : unsplash.com

Di Indonesia, setidaknya terdapat empat kategori produk utama. Keempat kategori produk utama tersebut yaitu Home Care and Personal Care, Foods and Beverages, Rokok (Cigarettes), dan Alkohol (Alcohol). 

Home Care and Personal Care yaitu barang-barang atau produk untuk perawatan rumah dan pribadi. Produk ini bisa meliputi kosmetik, perlengkapan mandi, alat kebersihan, pakaian, dan lain sebagainya. Sedangkan Food and Beverages merupakan bahan-bahan makanan dan minuman yang bisa langsung dikonsumsi maupun harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Kategori produk ini meliputi gula, kopi, teh, susu, bumbu instan, mie instan, dan lain sebagainya.

Perusahaan-perusahaan FMCG saat ini sudah banyak dikenal di Indonesia, bahkan sebagian sudah sangat populer secara global atau di seluruh dunia. Nestle, Unilever, Procter & Gamble, Garuda Food, Orang Tua, Mayora, Pepsi, dan Coca-Cola merupakan contoh produk atau merek yang sudah sangat dikenal konsumen yang bergerak pada bidang makanan dan minuman. 

Perkembangan Industri FMCG di Indonesia

Sektor industri FMCG di Indonesia mulai berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia yang semakin komplek. Faktor ini juga didukung dengan permintaan pasar yang menginginkan produk bernilai tinggi dengan waktu pemenuhan yang relatif singkat. Dengan demikian, perusahaan membutuhkan suatu sistem produksi yang tepat agar bisa menggaet konsumen dengan lebih maksimal. 

Sektor perindustrian sudah banyak dipilih menjadi suatu sistem untuk memproduksi barang konsumsi. Dengan adanya perkembangan industri ini, maka industri di Indonesia secara umum telah mengalami pergeseran sektor ekonomi dari industri primer menuju industri sekunder. Pergeseran tersebut memiliki pengertian adanya perubahan produksi barang mentah menjadi barang setengah jadi atau produksi barang setengah jadi menjadi barang jadi dalam kategori. 

Baca juga : 6 Elemen Retail Mix Untuk Manajemen Bisnis Ritel Yang Lebih Baik

Pertumbuhan pada sektor industri FMCG pada belakangan ini membutuhkan suatu strategi yang tepat dan konsisten agar dapat mewujudkan industri yang tangguh, profesional, dan berdaya saing baik di pasar domestik dan internasional. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat terhadap produk FMCG bisa mendorong tumbuhnya perekonomian, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan akhirnya mengurangi kemiskinan di Indonesia. Apalagi saat ini sedang tren bisnis online shop sehingga proses pendistribusian produk industri ini dapat bisa lebih mudah, cepat, dan membutuhkan anggaran yang relatif lebih kecil.

Manajemen Pemasaran Industri FMCG

Manajemen Pemasaran Industri FMCG yang berkembang saat ini telah mengalami beberapa fenomena yang menarik pada sektor-sektor lain. Fenomena yang terjadi pada manajemen pemasaran industri ini, antara lain:

1. Market Orientation Development (MOD)

Market Orientation Development (MOD) atau Orientasi pasar yaitu fenomena bagi manajemen pemasaran Industri sebagai acuan manajemen pemasaran beberapa industri yang lain. Fenomena ini mengajarkan bahwa konsep pengembangan orientasi pasar atau Market Orientation Development (MOD) untuk produk-produk industrial dapat mengadopsi konsep orientasi pasar industri.

Baca juga : SimpliDOTS Bidik Peluang Bisnis Di Distribusi Online

2. Inovasi Produk Secara Radikal

Manajemen pemasaran industri FMCG dapat dijadikan rujukan (benchmark) terhadap konsep pemasaran untuk beberapa bidang industri yang lain. Perusahaan bisa menerapkan model atau pendekatan corporate branding melalui para eksekutif pemasaran yang menangani tanggung jawab terhadap pengetahuan yang dimilikinya. Dengan pengetahuan yang dimilikinya tersebut, maka para eksekutif bisa saja melakukan inovasi produk secara radikal.

3. Perubahan Struktural Saluran Distribusi

Manajemen pemasaran industri FMCG merupakan sektor usaha yang masuk dalam situasi persaingan pada pasar global. Strategi merek (brand strategy) dari perusahaan multinasional yang beroperasi telah memberikan pengaruh terhadap perubahan struktural saluran distribusi (distribution channel) industri di suatu negara. Saluran distribusi yang mulanya hanya bisa memilih salah satu dari distribusi langsung atau distribusi tidak langsung, saat ini bisa digabungkan keduanya untuk efektifitas saluran distribusi itu sendiri.

Baca juga : Positioning Produk Sebagai Strategi Untuk Memenangkan Persaingan Bisnis

Dampak Industri FMCG

teksnologi sangat membantu bisnis Fast Moving Consumer Goods
source : unsplash.com

Kegiatan industri FMCG sebagai pilihan sistem produksi yang dianggap menguntungkan memiliki dampak yang positif dan negatif. Dengan adanya kegiatan industri, kebutuhan barang konsumsi masyarakat akan terpenuhi dengan cepat dan secara terus-menerus. Produksi barang oleh perusahaan dapat dilakukan secara massal dengan tetap menjamin kualitas barang agar tetap dalam keadaan yang diinginkan oleh pasar dengan nilai tambah yang relatif tinggi. 

Tersedianya barang dengan cepat dapat membuat tingkat kepuasaan masyarakat meningkat. Perusahaan pada industri akan mendapat marjinal yang cukup tinggi. Salah satu dampak yang paling menguntungkan dari industri ini adalah mempengaruhi tingkat pengangguran, karena industri ini membutuhkan banyak tenaga kerja. Dengan demikian, permasalahan pengangguran di masyarakat dapat berkurang.

Meskipun efektif dan efisien, kegiatan industri FMCG juga memiliki dampak yang cukup membahayakan bagi masyarakat. Kegiatan produksi yang dilakukan perusahaan sangat berkaitan dengan pabrik yang menjadi tempat utama proses produksi. Munculnya pabrik-pabrik industri di suatu wilayah dapat menimbulkan masalah berupa limbah buangan yang sebagian besar cukup membahayakan bagi masyarakat.

Pasar Bisnis FMCG

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki fenomena pasar potensial sesuai dengan segmentasi masing-masing produk. Potensi ini terus meningkat mengikuti pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia, khususnya bagi penduduk dalam usia produktif. Setiap individu atau penduduk di suatu tempat merupakan merupakan kelompok pasar konsumen (consumers market) dari bermacam-macam kategori produk yang disalurkan. Dengan demikian, konsumen menjadi pasar bisnis (business market) bagi setiap industri.

Baca juga : Pengertian Manajemen Supply Chain Dan 6 Tantangan & Solusi Untuk Perusahaan

Pasar bisnis juga meliputi badan atau perusahaan lain yang membeli barang dan jasa untuk digunakan sebagai bagian/bahan baku dalam proses produksi barang baru yang akan dijual kembali. Klasifikasi kelompok pasar bisnis FMCG meliputi tipe industrial, institusional,  pemerintah, dan perantara (intermediates). Kelompok pasar bisnis tipe perantara merupakan kelompok yang bertindak sebagai pihak yang menyalurkan produk menuju kepada pasar konsumen secara fungsional. Dalam manajemen saluran (channel management) disebutkan bahwa sistem pemasaran dengan menggunakan saluran pasar bisnis tipe perantara merupakan pola pendistribusian produk secara konvensional. Pendistribusian tipe ini disebut juga dengan distribusi tidak langsung. 

Fenomena potensial pasar konsumen di Indonesia diikuti oleh fenomena potensi pasar perusahaan di sektor industri FMCG. Jumlah pasar bisnis yang berperan sebagai penyalur produk FMCG di Indonesia semakin banyak dan dengan ragam kebutuhan dari masing-masing jenis industri FMCG.

FMCG dan Pengaruhnya Terhadap Impulse Buying

Screenshot 1 7
source : unsplash.com

Industri FMCG merupakan salah satu tempat bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhanya, baik dengan melakukan pembelian terencana maupun pembelian yang tidak terencana. Pembelian terencana merupakan perilaku pembelian dengan keputusan yang sudah dipertimbangkan sebelum masuk ke dalam ritel atau toko. Sedangkan pembelian yang tidak terencana adalah perilaku pembelian yang terjadi tanpa ada pertimbangan sebelumnya. Salah satu jenis pembelian yang tidak terencana yang sering harus mendapatkan perhatian khusus adalah pembelian impulsif atau impulse buying.

Impulse buying merupakan praktik pembelian yang dilakukan pada saat itu juga karena suatu respon yang diberikan oleh lingkungan. Pentingnya fenomena impulse buying dapat diukur dengan fakta bahwa item yang dibeli konsumen dengan pembelian impulsif dapat mempengaruhi total penjualan dari ritel modern ini. Keadaan pembelian impulsif (impulse buying) dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor selain dari kebutuhan FMCG. Misalnya faktor situasional pribadi (personal) dan faktor situasional toko (in-store). 

Faktor situasional pribadi (personal) dapat dikaitkan dengan kondisi seseorang yang meliputi masalah keuangan, waktu, kehadiran keluarga atau teman, penggunaan kartu kredit, dan lain sebagainya. Faktor situasional toko (in-store) dapat dikaitkan dengan kondisi toko yang menjual produk FMCG seperti promosi penjualan, lingkungan toko, pegawai toko yang ramah, diskon, dan lain sebagainya. 

Baca juga : Tantangan Terbesar Industri Retail Di Era Digital Beserta Solusinya

Tingkat Persaingan antar Produk FMCG

Tingkat persaingan antar produk FMCG untuk meraih capaian terhadap pasar saat ini terbilang sangat ketat. Strategi untuk menjadi pemimpin pasar (market leader) mengindikasikan bahwa para produsen atau perusahaan bersaing satu sama lain dalam hal pendistribusian produk melalui berbagai lini pasar bisnis. Persaingan tersebut juga dilakukan dengan pengembangan produk baru yang penuh dengan inovasi. 

Laju tingkat persaingan produk FMCG di Indonesia, secara umum diindikasikan oleh fenomena item variasi produk baru di pasar yang sangat beragam. Produk baru yang diciptakan oleh perusahaan merupakan hasil perluasan (extension) strategi merek. Alasan utama perusahaan memperkenalkan line extension adalah untuk ditujukan kepada para konsumen yang membutuhkan variasi produk FMCG dan untuk pertumbuhan perusahaan yang bersangkutan.

Tingkat persaingan produk FMCG di pasar saat ini disebabkan pula oleh banyaknya produk yang dihasilkan oleh para prinsipal dan produk yang diciptakan oleh kelompok pasar bisnis modern. Situasi persaingan di pasar modern juga mengindikasikan bahwa produk prinsipal memiliki kemampuan untuk bersaing dengan produk pasar. 

Baca juga : Distribusi Menjadi Masalah Besar Di Negara Kepulauan

Paradigma Industri FMCG di Era Digital

Screenshot 7
source : unsplash.com

Di era digital ini, seharusnya industri FMCG mampu memberikan layanan dan pendistribusian produk  dengan cepat dan terstruktur. Namun, kondisi yang diharapkan memberikan hasil lain dan memberikan tantangan tersendiri bagi para pengusaha sektor ini. 

Sebagian besar para pebisnis FMCG masih sering mengalami kesulitan untuk membangun keterampilan baru. Alasannya bisa karena keterbatasan SDM atau karena kondisi finansial. Misalnya, ketika usaha ritel akan beralih ke penjualan secara digital, tentu perusahaan membutuhkan karyawan yang memahami infrastruktur informatika dan teknologi. Namun sayangnya tidak semua pelaku usaha memiliki modal dan pembiayaan untuk melakukan perekrutan karyawan secara permanen.

Baca juga : 7 Tips Visual Merchandising Untuk Melejitkan Penjualan Bisnis Retail Anda

Era digital menjadi pendorong hadirnya saluran atau channel penjualan online. Misalnya website, marketplace, social media, email marketing, advertising, dan lain sebagainya. Channel-channel tersebut justru membuat para pebisnis kewalahan dalam menjalankan hal-hal administratif. Dengan digitalisasi, pebisnis dituntut untuk harus selalu siap sedia membalas pesan satu per satu, menjawab komplain, atau mengecek stok produk secara manual. Pekerjaan repetitif ini menjadi beban karena banyak menyita waktu dan tenaga. Pengusaha produk FMCG masih banyak yang belum siap mengintegrasikan sistem secara digital, sehingga semakin kewalahan saat menghadapi pesanan, pertanyaan calon konsumen, dan manajemen stok. 

Laju pertumbuhan bisnis FMCG di era digital ini masih sangat lambat karena belum sepenuhnya mengaplikasikan sistem online. Padahal, sistem online bisa dimanfaatkan untuk untuk memudahkan operasional bisni, misalnya dengan cara otomatisasi. Tantangan yang tidak kalah penting saat ini adalah belum adanya penggunaan layanan keuangan online untuk metode pembayaran ke berbagai vendor produk. 

Layanan keuangan online bahkan bisa dibilang tidak terlalu dikembangkan untuk pendistribusian dana ke distributor-distributor produk FMCG tersebut. Ketika merilis satu produk FMCG, biasanya dibutuhkan waktu antara 3 bulan sampai dengan 6 bulan. Itupun hanya untuk mengurus hal-hal terkait pembayaran ke berbagai vendor saja. Padahal, masih harus melibatkan aktivitas dalam penerimaan pembayaran dari mitra distributor. Jika pembayaran masih dilakukan secara manual, maka akan sangat menghambat laju perkembangan bisnis FMCG di era digital ini. 

Cara Mengatasi Berbagai Tantangan Bisnis FMCG

Screenshot 10
source : unsplash.com

Untuk mengatasi berbagai masalah dan tantangan bisnis FMCG di era digital ini, maka setiap pebisnis FMCG harus menggunakan layanan keuangan online yang terintegrasi. Dengan adanya sistem pendistribusian dana yang bermutu, maka memungkinkan para pebisnis FMCG bisa melakukan banyak transaksi secara langsung kepada banyak vendor dalam satu waktu. 

Baca juga : Strategi Mendistribusikan Produk Baru Dan Memilih Strategi Yang Tepat

Selain itu, transaksi yang dilakukan dengan layanan keuangan online akan lebih aman sehingga bisa mencegah penyelewengan dana yang mungkin terjadi jika dilakukan secara manual. Dengan adanya sistem pendistribusian dana secara online, maka waktu untuk mengurus banyak hal terkait pembayaran menjadi lebih efektif. Selain layanan keuangan online, bisnis FMCG juga membutuhkan adanya laporan transaksi yang detail sehingga laporan keuangan bisnis dapat dibuat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi online. 

SimpliDOTS bisa menjawab semua tantangan yang dihadapi bisnis FMCG terutama dalam industri distribusi barang. Klik link ini untuk mendapatkan trial aplikasi SimpliDOTS secara GRATIS