Permasalahan Umum yang Sering Terjadi di Bisnis FMCG dan Cara Mengatasinya

Permasalahan Umum yang Sering Terjadi di Bisnis FMCG dan Cara Mengatasinya

Laju pendapatan negara Indonesia dari sektor industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) selama ini masih menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan  negara-negara Asia Tenggara lainnya. Bahkan, kenaikan per tahun bisa mencapai 8,3%. Dengan angka tersebut, maka Indonesia telah berhasil meraih pertumbuhan pendapatan domestik bruto yang cukup tinggi. Bagi negara Indonesia, progres dari perusahaan FMCG bisa menekan inflasi, menjaga nilai tukar rupiah yang stabil, kenaikan nilai ekspor, dan penurunan angka pengangguran. 

FMCG hingga saat ini menjadi produk dengan pengeluaran terbesar bagi para rumah tangga masyarakat di Indonesia. Namun, sifat dari konsumen secara umum adalah memiliki kecenderungan untuk berhati-hati dalam mengatur anggaran sehingga akan lebih bijaksana dalam belanja. Misalnya dengan memilih produk paket hemat dalam format yang lebih besar. Dengan demikian, ada kemungkinan akan berimbas pada penurunan frekuensi belanja dan profit bagi perusahaan FMCG. 

Bisnis FMCG Berkembang Pesat di Indonesia

Bisnis FMCG Berkembang Pesat di Indonesia
source : www.freepik.com

Untuk membangun sebuah perusahaan pada sektor FMCG di Indonesia hingga saat ini tetap menunjukkan prospek yang menjanjikan. Perusahaan dinilai akan mudah untuk memenangkan pangsa pasar Indonesia. Para pelaku bisnis FMCG harus bisa membidik peluang untuk terciptanya relevansi produk yang tepat berdasarkan tren esensial saat ini. Ditambahkan dengan bangkitnya aktivitas belanja online yang tren saat ini, maka pembelanjaan produk FMCG akan semakin mudah dijual dan didistribusikan dengan cepat. Melalui portal belanja online yang ada, perusahaan FMCG semakin memiliki kontribusi yang signifikan terhadap total pasar Indonesia. 

Faktor lain yang membuat usaha di sektor FMCG semakin menjanjikan adalah pesatnya penetrasi smartphone, urbanisasi, dan pertumbuhan pendapatan yang siap dibelanjakan. Dengan demikian, diperkirakan dalam waktu dekat kontribusi e-commerce dalam industri FMCG akan mencapai lebih dari 50% dalam perbelanjaan.

Baca juga : Model Distribusi Industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) Di India

Kendala Umum Bisnis FMCG

Banyak masalah yang pada akhirnya timbul dalam internal perusahaan FMCG di Indonesia. Dampaknya bisa sangat fatal karena kemungkinan perusahaan akan mengalami kerugian yang besar. Maka dari itu, setiap pelaku usaha FMCG perlu benar-benar memperhatikan masalah yang umum dan sering terjadi di dalam sektor usaha FMCG. Perusahaan harus membangun manajemen risiko yang khusus membahas hal ini. Dengan manajemen risiko, maka perusahaan akan memiliki solusi ketika masalah muncul di tengah perjalanan bisnis. Berikut ini, permasalahan umum yang sering terjadi di bisnis FMCG dan cara mengatasinya.

1. Memilih Supplier Yang Tidak Tepat

Masalah ini paling umum dialami oleh perusahaan yang memproduksi produk FMCG. Produk FMCG merupakan produk nyata yang bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indera. Maka dari itu, kualitas suatu produk akan mudah dinilai oleh setiap konsumen. Kualitas dan manfaat produk FMCG bisa langsung mendapatkan respon dari konsumen. Maka dari itu, diperlukan bahan baku yang tepat untuk membuat suatu produk FMCG. Caranya adalah dengan memilih supplier bahan baku (inventory) yang tepat.

Masalah supplier bukan hanya untuk keberadaan produk saja, melainkan lead time agar inventory segera tersedia untuk diproduksi. Masalah dalam memilih supplier juga cenderung pada harga inventory yang patok. Idealnya, semakin tinggi harga bahan baku, maka harga produk akan lebih tinggi pula. Semakin tinggi harga produk dipastikan akan sangat sulit bersaing di pangsa pasar. Maka dari itu, sebagai produsen FMCG, sangat penting untuk mempertimbangkan pemilihan inventory yang murah dengan kualitas yang tinggi sehingga bisa menjual produk dengan harga bersaing.

Masalah memilih supplier tidak bisa dibiarkan begitu saja, namun harus benar-benar selektif agar bisa memangkas anggaran produksi. Solusinya adalah dengan membangun manajemen inventory (persediaan) agar pemilihan supplier dan pemenuhan bahan baku bisa berjalan dengan selaras. Dalam menjalankan manajemen inventory, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, khususnya dalam pemilihan supplier. Sangat disarankan untuk memilih supplier dengan mempertimbangkan track record dan konsistensinya dalam memberikan pelayanan.

2. Manajemen Logistik Yang Tidak Profesional

Secara umum, keadaan sistem manajemen logistik bagi perusahaan FMCG belum benar-benar diterapkan sesuai dengan teori manajemen. Meskipun tidak 100% dinyatakan salah jika suatu teori tidak bisa berlaku untuk realita. Namun, adanya teori memberikan jalan yang jelas untuk fungsi dari setiap manajemen. Dalam manajemen logistik, terdapat beberapa fungsi yang tidak bisa dihindarkan dari teori. Fungsi-fungsi tersebut antara lain fungsi perencanaan, fungsi Penentu kebutuhan, fungsi penganggaran, fungsi pengadaan, fungsi penyimpanan, fungsi penyaluran, fungsi pemeliharaan, fungsi penghapusan, dan fungsi pengendalian.

Dari semua fungsi tersebut tidak semuanya dapat berjalan dengan efisien kurangnya pertanggungjawaban dan perencanaan yang tidak sesuai untuk penerapan sistem manajemen tersebut. Masalah dalam manajemen logistik juga bisa disebabkan faktor lain seperti terjadinya kesalahan dalam menghitung kebutuhan logistik atau karena keterbatasan sarana dan prasarana penunjang kebutuhan logistik.

Prinsip perusahaan FMCG sama halnya dengan perusahaan lain, yaitu untuk mencari profit. Tetapi, dalam kenyataan profit tidak selalu menjadi hal yang paling utama karena yang terpenting adalah tentang fungsi-fungsi dari manajemen logistik tersebut diterapkan sebagaimana mestinya. Jika fungsi dan proses berjalan dengan benar, maka pasti profit akan menyertai pada akhirnya.

Keberadaan manajemen logistik dengan segala fungsinya merupakan kunci utama agar proses untuk mendapatkan profit sesuai dengan yang diharapkan. Maka dari itu, dengan penerapan manajemen logistik diharapkan perusahaan FMCG mampu menjaga ketersedian produk maupun sumber daya kebutuhan yang dimiliki perusahaan. 

Penyebab utama dari semua kegagalan yang terjadi pada perusahaan FMCG salah satunya adalah karena sistem manajemen logistik yang terlalu lemah dan tidak profesional. Jika sistem manajemen logistik tidak profesional, maka akan terjadi pengadaan yang tidak terkontrol dengan baik dan kurangnya pengaturan dalam sistem manajemen pergudangannya.

Perusahaan FMCG, baik yang sebagai produsen, retailer, maupun distributor tentunya membutuhkan adanya sumber daya manusia yang cukup berkompeten. Dengan cara ini, maka sistem manajemen logistik yang dimiliki akan jauh lebih kuat. 

Permasalahan manajemen logistik pada perusahaan FMCG selanjutnya adalah terlalu lemahnya sistem pengadaan yang tentu saja dapat semakin menghambat ketepatan waktu dalam menyediakan bahan baku untuk produksi. Untuk setiap masalah logistik tersebut, bisa diatasi dengan membangun beberapa sumber daya manusia yang khusus menangani satu fungsi logistik. Dengan demikian, setiap fungsi dalam sistem logistik menjadi lebih terarah dan ada yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang merugikan perusahaan.

Baca juga : Apa Itu FMCG (Fast Moving Consumer Goods) ?

3. Selera Konsumen dan Target Pasar Yang Tidak Terarah

Selera Konsumen dan Target Pasar Yang Tidak Terarah
source : www.freepik.com

Tidak jarang dalam menjalankan bisnis di sektor FMCG ini, pebisnis cenderung berpikir kalau lebih baik menjual produknya kepada khalayak orang. Pemikiran ini dinilai akan lebih mudah memberikan keuntungan yang lebih banyak. Meskipun anggapan ini tidak 100% salah, tetapi faktanya tanpa ada segmentasi pasar, maka bisnis akan lebih sulit berkembang dan mendapatkan keuntungan yang diinginkan. Sangat penting bagi pebisnis FMCG untuk mengetahui preferensi pembelian pelanggan yang menjadi basis dari penjualan bisnisnya. Dengan demikian, perusahaan bisa menentukan jenis barang dan jumlah yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Selain itu, perusahaan FMCG harus benar-benar memastikan selera konsumen. Caranya bisa dengan memastikan kualitas produk yang terbaik sehingga konsumen akan kembali membeli. Fokus terhadap selera konsumen merupakan hal terpenting dalam bisnis FMCG supaya bisa memposisikan diri pada pasar yang ditargetkan. Sifat selera dari konsumen adalah akan selalu berubah-ubah, bahkan terkadang lebih cepat dari yang dibayangkan. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan harus bisa menyesuaikan produk dengan permintaan konsumen. 

Selain musim dan tren, beberapa faktor lain seperti kondisi ekonomi, advertisement, dan kompetisi di industri FMCG juga bisa mempengaruhi selera konsumen. Maka dari itu, Perusahaan perlu selalu memperhatikan beberapa faktor yang bisa membangun selera konsumen untuk menghasilkan demand forecasting yang lebih akurat.

Fokus dalam selera konsumen dan target pasar yang tepat dengan konsisten akan membuat pelanggan memberi feedback positif terhadap brand, produk, citra perusahaan dalam jangka panjang. Perusahaan juga harus memiliki target pasar yang terarah agar produk benar-benar dipromosikan dan bisa dikenal oleh banyak orang. Target yang terarah diiringi dengan strategi pemasaran yang kuat dan produk yang sesuai dengan selera pelanggan dipastikan akan memberikan keuntungan yang lebih cepat bagi perusahaan. 

4. Isu Negatif dan Provokatif

Hubungan dengan masyarakat sebagai target pasar dan konsumen aktif memang tidak selalu harmonis. Ada kalanya perusahaan harus menghadapi beberapa pandangan bahkan tindakan yang tidak mengenakkan dari beberapa pelanggannya. Saat ini, pengguna sosial media telah memenuhi seluruh masyarakat dunia. Setiap orang bisa mengungkapkan perasaannya, baik senang maupun atas ketidaksukaan terhadap sesuatu. 

Suatu produk yang buruk bisa dinilai dengan mudah dan disebarkan dengan cepat. Kondisi seperti ini bisa dialami oleh setiap perusahaan FMCG. Pastinya, isu negatif dan provokatif bisa saja mempengaruhi pelanggan lain dan merugikan perusahaan, baik dari segi pencitraan maupun profit. 

Masalah lain bisa saja karena keberadaan perusahaan yang tidak diterima oleh masyarakat. Misalnya, suatu pabrik produk makanan menyebabkan limbah untuk lingkungan sekitar. Bisa saja perusahaan harus menghadapi protes dan demo bagi warga yang tinggal di sekitar pabrik. 

Isu negatif juga tidak selalu disebabkan dari faktor internal perusahaan FMCG, namun bisa saja dari faktur luar. Misalnya dengan isu SARA atas ucapan presiden Prancis, Emmanuel Macron yang berdampak pada aksi pemboikotan produk Prancis di berbagai Negara. Begitu pula dengan aksi boikot produk FMCG Israel karena dinilai terlalu ekstrem dalam menginvasi Jerusalem. 

Hal-hal seperti ini perlu ditindaklanjuti supaya tidak memberikan dampak kerugian yang lama bagi perusahaan. Berikan pendekatan secara baik kepada masyarakat, bahwa produk yang dijual tidak seperti yang dibayangkan masyarakat pada umumnya. Perusahaan FMCG juga wajib memiliki Sumber Daya Manusia khusus untuk Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). 

5. Teknologi Yang Tidak Memberikan Solusi

Teknologi Yang Tidak Memberikan Solusi
source : www.freepik.com

Kunci keberhasilan perusahaan FMCG dikura atas dua aspek, yaitu kecepatan dan akurasi. Hal ini sangat berkaitan dengan pendistribusian produk FMCG ke berbagai lokasi geografis dan basis konsumen. Saat ini sudah banyak bermunculan media digital dan teknologi yang pastinya sangat bermanfaat bagi peluang pertumbuhan bisnis FMCG. Tetapi jika tidak semua teknologi yang dipilih bisa memberikan peluang untuk memenangkan persaingan. Maka dari itu,, eksekutif di perusahaan FMCG harus bisa mengambil keputusan yang akurat untuk supaya teknologi yang digunakan benar-benar memberikan solusi. Teknologi harus memberikan kemudahan untuk strategi bisnis sehingga bisa memprediksi bisnis di masa mendatang.

Teknologi yang digunakan cenderung berkaitan dengan teknologi untuk mengumpulkan dan menganalisis laporan dalam jumlah besar. Laporan keuangan memang menjadi salah satu aspek yang tidak bisa terlepas dari operasi bisnis FMCG. Apalagi, untuk perusahaan FMCG yang besar dengan banyak cabang dan sub cabang di setiap distrik tentu membutuhkan suatu cara agar laporan keuangan bisa dibuat dengan efektif. Saat ini, ada banyak jenis software dan aplikasi untuk memudahkan pembuatan laporan keuangan. Dengan teknologi ini, maka perusahaan tidak perlu lagi menggunakan spreadsheet atau bahkan pen dan kertas. Idealnya, software atau aplikasi akuntansi bisa membuat laporan dengan menghemat waktu dan membuat produktivitas kerja tim menjadi lebih meningkat. Namun, tidak semua software laporan keuangan bisa memberikan solusi, sehingga perusahaan dituntut untuk bisa memilih software yang tepat. 

Hadirnya teknologi juga telah memberikan kemudahan untuk keperluan evaluasi dan penjualan. Misalnya adanya aplikasi kasir atau POS dan aplikasi-aplikasi lain untuk membuat faktur. Bahkan, beberapa aplikasi tersebut bisa memberikan data-data untuk membuat strategi bisnis untuk masa mendatang. Aplikasi penjualan dapat membantu perusahaan FMCG untuk membantu proses transaksi dengan pelanggan. Data-data yang tersedia bisa digunakan untuk mengidentifikasi produk yang harus dijual berdasarkan histori penjualan. Perusahaan juga pada akhirnya bisa tahu cara memasarkan produk berdasarkan pola pembelian pelanggan. Untuk tindak lanjut, aplikasi tersebut bisa mengoptimalkan inventaris dan manajemen gudang.

Sebagian besar perusahaan FMCG saat ini bahkan sangat bergantung pada aplikasi business intelligence, khususnya untuk mengumpulkan data dan mendapatkan wawasan yang bisa digunakan untuk pengambilan keputusan. Namun, terkadang aplikasi tersebut tidak memberikan informasi secara menyeluruh sehingga cenderung membuat bingung para penggunanya. 

Perusahaan FMCG perlu menemukan cara yang tepat untuk beradaptasi terhadap teknologi yang digunakan. Perusahaan juga harus bisa sesegera mungkin menangkap perubahan yang terjadi agar tetap bisa di atas dan bertahan dari persaingan bisnis yang ada. Untuk kebutuhan tersebut, dibutuhkan teknologi untuk mengedepankan nilai nilai risiko dan benefit setiap kategori produk sehingga perusahaan bisa mengidentifikasi produk yang akan bertahan di pasar. 

Adanya berbagai aplikasi digital saat ini merupakan transisi dari model tradisional ke model baru yang lebih inovatif. Dengan media tersebut, perusahaan FMCG bisa mengembangkan action plan dengan struktur rincian kerja yang jelas, kerangka waktu pencapaian yang tepat, dan pembagian peran tenaga kerja yang jelas.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua teknologi, baik aplikasi maupun software digital bisa memberikan solusi dan kemudahan. Misalnya, aplikasi yang terlalu rumit dengan fitur-fitur yang asing bagi para penggunanya. Maka dari itu, perlu bagi perusahaan FMCG untuk lebih jeli dalam memilih aplikasi yang mudah, termodern, dan bisa integrasikan.

Baca juga : Pentingnya Aplikasi Route Optimization Untuk Perusahaan Distribusi

SimpliDOT, Super Apps untuk Distributor FMCG

Untuk memaksimalkan penjualan, maka pilihlah aplikasi SimpliDOTS Sales Force Automation (SFA). Fitur-fitur yang dimiliki aplikasi penjualan ini sangat lengkap dan mudah digunakan. Tingkat User Experience (UX) dari aplikasi SimpliDOTS Sales Force Automation (SFA) akan memberikan pengalaman yang baik bagi tenaga penjual, sehingga sangat cocok bagi Anda yang sedang membangun bisnis di sektor FMCG. 

Untuk masalah integrasi, SimpliDOTS SFA bisa diintegrasikan dengan aplikasi Accurate Online, sehingga siklus keuangan perusahaan akan terus sejalan dengan siklus penjualan. Untuk mengetahui fitur-fitur lain dari SimpliDOTS Sales Force Automation, Anda bisa langsung registrasi di sini.