Model SCOR Dalam Supply Chain Risk Management (SCRM)
Model SCOR Dalam Supply Chain Risk Management (SCRM)

Model SCOR dalam Supply Chain Risk Management (SCRM)

Persaingan di setiap sektor usaha telah menuntut setiap perusahaan untuk berkompetisi menjadi perusahaan yang lebih unggul dari perusahaan lainnya. Maka itu, perusahaan membutuhkan Supply Chain Management (SCM) sebagai elemen yang sangat penting. SCM harus benar-benar diperhatikan karena selalu melibatkan semua elemen lain yang berpartisipasi dalam pergerakan usaha. SCM akan terhubung dengan pemasok (supplier), perusahaan manufaktur, hingga customer.

Di sisi lain, setiap perusahaan mempunyai suatu risiko dalam setiap aktivitas operasional usahanya, termasuk pada aktivitas supply chain. Risiko tersebut bisa berupa ancaman yang akan mengacaukan aktivitas normal perusahaan. Lebih lanjut, ancaman tersebut atau bahkan menghentikan sesuatu yang telah direncanakan dan sedang berjalan. Gangguan pada supply chain juga bisa berdampak negatif dalam jangka panjang terhadap perusahaan. Banyak perusahaan yang tidak mampu pulih dan bangkit secara cepat dari dampak negatif tersebut

Peran Penting Supply Chain

source : www.freepik.com

Saat ini, SCM telah menjadi salah satu strategi yang paling penting dalam membangun keunggulan perusahaan dan meraih keberhasilan dalam kompetisi. Aktivitas SCM yang dilakukan oleh perusahaan bisa mencakup mulai pemenuhan (fulfilment) pasokan barang sampai dengan ke pemenuhan order fulfilment dari pelanggan. Tanpa SCM, bisa dipastikan tidak ada produk. Tanpa produk, tidak akan ada order penjualan yang bisa dipenuhi. Tanpa ada penjualan, maka perusahaan tidak akan mungkin bisa beroperasi dengan normal.

Begitu pentingnya SCM ini, maka setiap manajer perusahaan harus bisa melakukan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan manajemen risiko atas segala proses SCM. Setiap manajer harus memberikan perhatian yang lebih karena segala bentuk risiko bisa terjadi. Bahkan, bisa saja perusahaan akan terus mendapat dampak signifikan dari potensi kejadian risiko terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Secara umum, kinerja supply chain berhubungan dengan keandalan, respon yang cepat, pengadaan yang tepat, dan pemenuhan fulfilment yang fleksibel. Namun, perusahaan juga harus tetap memperhatikan penggunaan biaya dan ketepatan lead time dari aktivitas logistik.

Mengenal Model SCOR

Dalam setiap proses aktivitas SCM perusahaan pasti berpotensi menghadapi risiko. Misalnya kekurangan bahan baku, kegagalan pemasok, harga bahan baku yang meningkat, kerusakan mesin, order yang tidak pasti, perubahan pesanan, kegagalan transportasi, dan lain sebagainya. Segala bentuk risiko tersebut mungkin saja terjadi dan jika benar-benar terjadi, maka akan berdampak pada kinerja SCM perusahaan. 

Perusahaan harus bisa mengatasinya dengan sebuah pendekatan, misalnya Supply Chain Risk Management (SCRM). Pendekatan SCRM saat ini telah berkembang dengan berbagai model. Salah satunya adalah Model Supply Chain Operations Reference (SCOR) yang dikembangkan oleh Supply Chain Council (SCC) pada tahun 1996. SCC merupakan asosiasi non profit internasional dan independen dengan keanggotaan yang terbuka bagi semua perusahaan. 

Dalam perkembangan terbaru, Model SCOR telah disematkan suatu metode penilaian mandiri serta perbandingan beberapa aktivitas dan kinerja Supply Chain sebagai suatu standar SCM perusahaan. Dengan model SCOR ini, perusahaan akan mudah dalam menyajikan kerangka proses bisnis, membuat indikator kinerja, dan mengupayakan praktik-praktik terbaik (best practices). Model SCOR sangat dekat dengan pemanfaat teknologi sehingga akan mendukung komunikasi dan kolaborasi antarmitra Supply Chain. Keuntungan lain yang tidak kalah penting bagi perusahaan adalah efektivitas SCM yang terus meningkat secara signifikan.

Baca juga : Strategi Promosi Untuk Meningkatkan Penjualan Di Akhir Tahun

Peran Model SCOR

source : www.freepik.com

Dalam proses supply chain, perusahaan akan menemukan berbagai risiko yang dapat mempengaruhi alur rantai supply chain. Risiko ini bisa dari kondisi persediaan, produk, maupun alat-alat yang digunakan. Risiko tersebut bisa berdampak besar dan ada juga yang berdampak kecil. Beberapa contohnya antara lain loss contain/kehilangan isi atau timbangan produk menjadi berkurang. Risiko bisa juga terjadi karena kontaminasi pada kemasan produk, hasil produksi turun karena terganggunya persediaan, dan lain sebagainya. Bahkan, risiko tersebut masih bisa berlanjut hingga produk diterima oleh konsumen akhir. 

Agar risiko bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan, maka perusahaan dituntut untuk siap dan mampu menemukan berbagai strategi agar kinerja rantai SCM secara bertahap bisa membaik. Perusahaan harus melakukan pembenahan secara terus-menerus dengan mengatasi dan mencegah berbagai risiko yang memiliki potensi tinggi. Pengukuran kinerja SCM tentu akan bermanfaat jika hasil pengukuran tersebut dijadikan dasar dalam melakukan perbaikan. Maka dari itu, saat melakukan pendekatan-pendekatan terhadap risiko supply chain, biasanya dilakukan pemetaan terlebih dahulu kemudian disusul dengan penentuan proses yang ideal. Salah satu model sistem pengukuran kinerja SCM tersebut adalah berdasarkan model Supply Chain Operation Reference (SCOR).

Model SCOR memiliki peran utama sebagai basis dalam memahami cara maupun strategi SCM. Ketika risiko terjadi pada SCM, maka perusahaan siap untuk untuk mengoperasikan, mengidentifikasi semua pihak yang terkait, dan menganalisis kinerja supply chain perusahan. Namun, ada beberapa peran lain dari model SCOR ini, yaitu :

  • Media untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan perusahaan
  • Mendukung pengambilan keputusan manajemen. 
  • basis bagi proyek perbaikan SCM
  • Mengidentifikasi segala proses SCM dalam bahasa yang dapat dikomunikasikan ke seluruh elemen dan fungsional perusahaan.
  • Menghubungkan berbagai aktivitas dengan ukuran/metrik yang tepat karena menggunakan terminologi dan notasi yang standar.

Jangkauan Model SCOR

Model SCOR mencakup setidaknya empat bidang, yaitu Interaksi antara seluruh pemasok dan konsumen, transaksi material fisik, seluruh transaksi pasar, dan proses pengembalian (return). Agar keempat bidan tersebut bisa dijangkau, maka perusahaan harus memasukkan 6 proses manajemen dalam model SCOR, yaitu Plan, Source, Make, Deliver, Return, dan Enable. Jangkauan model SCOR juga harus dicapai dengan pendekatan yang efektif dalam setiap proses, praktik, kinerja, dan keterampilan SDM.

Secara umum, aktivitas SCRM meliputi tindakan dalam untuk mengidentifikasi, menilai,, dan mitigasi yang sistematis terhadap potensi gangguan dalam jaringan logistik. SCRM diharapkan mampu untuk mengurangi dampak negatif terhadap kinerja setiap jaringan dalam supply chain.  Dengan model SCOR, pengelolaan SCRM akan meliputi proses identifikasi, koordinasi, dan pengelolaan risiko rantai pasok akan diselaraskan dengan keseluruhan program manajemen risiko bisnis. 

Model SCOR dinilai mampu menjangkau semua risiko rantai pasok dan segala ketidakpastian yang potensial yang mungkin saja akan mempengaruhi secara negatif terhadap kinerja perusahaan.

Elemen-Elemen dalam Model SCOR

Model SCOR merupakan atribut dari kinerja supply chain yang mempengaruhi SCRM secara signifikan. Maka dari itu, perusahaan harus memperhatikan keberadaan elemen-elemen penting dalam modul ini ketika mengimplementasikannya. Ada 5 elemen penting dalam model SCOR, yaitu keandalan, responsivitas, ketangkasan, biaya, dan manajemen aset.

1. Keandalan (reliability)

Keandalan atau reliability merupakan elemen utama yang akan mendorong SCRM memiliki keandalan rantai pasok yang meningkat pula. Selain itu, keandalan dari model SCOR akan menurunkan keragaman pemenuhan pesanan. Keandalan menjadi elemen penting karena SCRM bisa fokus pada pelanggan (customer) dan supplier. Ukuran kinerja keandalan dari model SCOR mencakup ketepatan waktu, ketepatan kuantitas, dan ketepatan kualitas. 

Dengan elemen keandalan ini, Model SCOR menjadi indikator yang berguna dalam pemenuhan pesanan yang sempurna (perfect order fulfillment). Selain itu, kinerja supply chain perusahaan akan optimal dalam mengirimkan produk yang tepat, ke tempat yang tepat, pada saat yang tepat, dan dalam kondisi yang tepat. Produk yang dikirimkan juga akan berdasarkan jumlah yang tepat dengan dokumentasi yang tepat dan kepada konsumen yang tepat.

2. Responsivitas (Responsiveness)

Responsivitas merupakan elemen yang berkaitan dengan keragaman waktu dalam siklus pemenuhan pesanan. Tentunya, setiap perusahaan ingin kalau waktu pemulihan dari gangguan atau risiko akan lebih pendek. Model SCOR memiliki kecepatan dalam merespon dan menyatakan seberapa cepat suatu tugas akan dijalankan. Setiap perusahaan harus mengedepankan kecepatan yang selalu konsisten dalam menjalankan operasional usahanya. 

3. Ketangkasan (Agility)

Agar dapat menunjukkan kecepatan supply chain dalam menyediakan produk bagi konsumen, maka model SCOR® memerlukan waktu siklus pemenuhan pesanan (order fulfillment cycle time) yang cepat pula. Maka dari itu, perusahaan perlu melakukan tindakan yang  proaktif, agar supply chain lebih siap menghadapi perubahan-perubahan mendadak. Kesiapan tersebut bisa diwujudkan dengan ketangkasan yang dimiliki. Ketangkasan akan menjadikan supply chain lebih fleksibel karena SCM akan bisa menyatakan kemampuan dalam merespon perubahan eksternal. Pengaruh-pengaruh eksternal tersebut bisa berasal dari peningkatan atau penurunan permintaan yang tidak terduga, operasi pemasok yang berhenti, bencana alam, regulasi sistem keuangan, masalah tenaga kerja, dan ketidakpastian lainnya.

Ketangkasan dalam SCM juga berguna dalam merespon perubahan pasar untuk mendapatkan atau mempertahankan daya saing. Model SCOR akan meningkatkan banyak kinerja dari SCRM, seperti fleksibilitas terhadap peningkatan kapasitas, daya adaptasi SCM terhadap peningkatan kapasitas, dan daya adaptasi SCM terhadap penurunan kapasitas.

4. Biaya (Cost)

Biaya merupakan elemen yang menjadi media untuk mengukur kinerja yang fokusnya bersifat internal. Elemen ini menyatakan sebuah nilai tertentu untuk menjalankan suatu proses bisnis. Biaya pada umumnya mencakup segala hal yang terkait dengan pengoperasian supply chain seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead, biaya transportasi, biaya perawatan mesin, dan lain sebagainya. 

Setiap perusahaan harus sadar dampak dan risiko terkait dengan biaya. Tidak jarang perusahaan yang pada akhirnya harus mengalami peningkatan jumlah biaya pengoperasian supply chain. Maka dari itu, dalam model SCOR, keberadaan biaya menjadi elemen penting karena mencakup biaya pelayanan total (total cost to serve) dan menjadi indikator untuk mengukur kinerja yang berfokus pada konsumen. Risiko terhadap segala hal yang berkenaan dengan biaya akan terukur dan ditindaklanjuti oleh SCRM perusahaan. 

5. Manajemen Aset (Asset Management)

Adanya biaya tentunya harus dimanfaatkan secara efisien. Manajemen aset menjadi elemen penting dalam model SCOR yang dapat menyatakan kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan aset secara efisien. Manajemen aset dalam supply chain mencakup penurunan inventori (persediaan), penentuan produksi sendiri, dan subkontrak (insource vs outsource). 

Efektivitas SCRM akan lebih terlihat karena manajemen aset akan mendukung pemenuhan permintaan yang mencakup kondisi semua aset. Misalnya modal kerja dan pendanaan aset tetap perusahaan. 

Baca juga : Mengenal Sistem Distribusi Sebagai Aspek Dari Pemasaran

Pendekatan SCRM dengan Model SCOR

Penerapan Model SCOR bisa memberikan panduan perusahaan dan SCRM. Model ini memberikan pendekatan dengan 3 tahap, yaitu identifikasi risiko, penilaian risiko, dan mitigasi risiko.

1. Identifikasi Risiko
source : www.freepik.com

Tahap pertama dalam pendekatan SCRM dengan model SCOR akan dimulai dengan identifikasi risiko. Dalam praktiknya, SCRM bisa melakukan berbagai bentuk identifikasi, termasuk mencakup identifikasi terhadap jenis risiko yang berbeda-beda. Misalnya risiko pasokan, risiko operasi, risiko permintaan, risiko keamanan, risiko regulasi, risiko lingkungan, dan lain sebagainya. 

Metode yang bisa digunakan pada identifikasi risiko misalnya dengan mengamati tren-tren historis, meneliti tren-tren industri, sumbang saran pakar, membuat pemetaan supply chain, melakukan beberapa survei, melakukan audit informasi, dan lain sebagainya.

2. Penilaian risiko

Setelah selesai melakukan identifikasi risiko, tahap selanjutnya dalam pendekatan ini adalah melakukan berbagai macam aktivitas untuk menilai dan mengevaluasi risiko-risiko yang terjadi. Selanjutnya, diperlukan juga aktivitas dalam menyeleksi manajemen strategi risiko dan mendefinisikan rencana risiko. Tujuan yang diharapkan dari tahap ini adalah pemahaman kepada manajemen mengenai bagian yang kemungkinan terdampak atas risiko terbesar. 

3. Mitigasi risiko

Mitigasi risiko merupakan tahap pendekatan yang mencakup aktivitas untuk mengendalikan dan memantau berbagai macam risiko. Tahap ini juga memungkinkan SCRM untuk menciptakan ukuran mitigasi, menurunkan dampak risiko, dan menurunkan kemungkinan risiko terjadi. Setiap risiko yang terjadi dapat dimitigasi dengan cara menurunkan dampak atau menghilangkan sepenuhnya. Jika risiko yang datang berdampak sangat besar, maka rencana mitigasi harus dievaluasi. Metodenya bisa disesuaikan dengan bentuk risiko. Beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan misalnya dengan membuat perencanaan yang lebih baik, mengalihkan kepada pemasok (supplier) alternatif, mengembangkan rencana respons, dan memanfaatkan infrastruktur cadangan.

Baca juga : Pemahaman Umum Mengenai Manajemen Risiko (Risk Management)

Pengembangan Metrik Model SCOR dalam SCRM

Pengembangan Metrik Model SCOR dalam SCRM
source : www.freepik.com

Model SCOR dapat mengembangkan beberapa ukuran (metrics) dalam manajemen risiko rantai pasokan, antara lain yaitu :

  • Value At Risk (VAR), yaitu metrik untuk mengetahui kemungkinan kejadian atau peluang risiko bagi seluruh fungsi supply chain.
  • Biaya mitigasi risiko supply chain 
  • Risiko kejadian (EVAR), yaitu matrik risiko yang diukur dengan mengalikan probabilitas dengan dampak dari kejadian-kejadian risiko. 
  • Sisa-sisa risiko yang menjadi metrik untuk mengetahui jumlah kemungkinan risiko yang dimitigasi akan terjadi pada area tertentu, pemasok tertentu, produk tertentu, dan lain sebagainya.

Hadirnya Model SCOR telah mengembangkan SCRM sebagai panduan manajer dalam melakukan perencanaan dan pengendalian manajemen risiko. Perusahaan harus sadar dan selalu siap bahwa risiko selalu terjadi sebagai konsekuensi dari ketidakpastian. Maka dari itu, sangat diperlukan penggunaan ukuran kinerja model SCOR dengan cara menilai atau mengevaluasi secara periodik ukuran kinerja tersebut. Perusahaan juga harus aktif menganalisis dampak kejadian risiko terhadap ukuran kinerja SCM. Perusahaan harus memastikan bahwa SCRM dapat mengidentifikasi risiko, penilaian, dan mitigasi risiko dengan tepat.

Supply Chain Operation Reference (SCOR) pada dasarnya hanya sebuah alat untuk membuat pemetaan aktivitas pada proses supply chain perusahaan. Alat ini tentunya harus dilengkapi dan diintegrasikan dengan alat-alat lainnya untuk mendukung proses supply chain dan mengelola risiko dalam supply chain. Misalnya, dari divisi penjualan diperlukan alat yang mendukung kinerjanya. 

Anda bisa memberikan aplikasi SimpliDOTS Sales Force Automation SFA yang dilengkapi dengan berbagai fitur-fitur canggih dan modern. Aplikasi penjualan yang satu ini mudah digunakan dan dapat diintegrasikan dengan divisi-divisi lain di dalam perusahaan. SimpliDOTS Sales Force Automation (SFA) tersedia dalam free trial selama 14 hari, setelah Anda melakukan registrasi di sini.