Pemahaman Umum Mengenai Manajemen Risiko (Risk Management)
Pemahaman Umum Mengenai Manajemen Risiko (Risk Management)

Pemahaman Umum Mengenai Manajemen Risiko (Risk Management)

Setiap kalangan yang memulai suatu bisnis pasti membutuhkan keberanian, tekad, manajemen, dan strategi bisnis yang baik. Namun, dengan segala hal tersebut bukan berarti semua akan berjalan dengan baik karena perusahaan masih harus menghadapi risiko bisnis. Dalam menjalankan sebuah bisnis, pasti akan ada kendala dan kesulitan, baik yang kecil maupun yang besar. Siap menjalankan bisnis berarti siap untuk menerima risikonya. Bahkan, bagi perusahaan yang telah sukses dan besar sekalipun, bukan tidak mungkin akan menghadapi kendala pada akhirnya. Kendala-kendala yang datang merupakan risiko bisnis yang akan mempengaruhi masa depan bisnis.

Setiap pengusaha harus sadar bahwa risiko pasti akan datang setiap saat ketika operasional perusahaan sedang berlangsung. Maka itu, untuk meminimalisir risiko yang akan timbul, maka diperlukan sebuah mekanisme untuk agar tidak akan mengganggu proses kinerja perusahaan. Mekanisme tersebut lebih dikenal dengan sebutan risk management. 

Dengan adanya mekanisme ini, maka perusahaan bisa melakukan proses identifikasi, analisis, penilaian, dan pengendalian sehingga dapat meminimalisir atau bahkan menghapus risiko yang besar. Dalam praktiknya, perusahaan akan mengidentifikasi suatu proses perencanaan, pengaturan, pemimpinan, dan pengontrolan aktivitas agar dapat meminimalisir risiko buruk perusahaan.

Pengertian Risiko dan Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah suatu akibat yang mungkin terjadi pada sebuah perusahaan yang sedang melangsungkan operasionalnya maupun. Akibat tersebut bisa terjadi ketika operasional sedang berjalan maupun di masa yang akan datang. Risiko bersifat tidak pasti dan cenderung menimbulkan kerugian. 

Bagi perusahaan, risiko menjadi situasi yang tidak dikehendaki namun tidak bisa selalu dihindarkan. Risiko bisa muncul karena faktor internal perusahaan seperti kegiatan produksi dan keputusan yang diambil dalam kegiatan rutinitas sehari-hari. Setidaknya, ada 3 faktor utama yang mempengaruhi ketidakpastian dan bisa mendatangkan risiko. Ketiga faktor tersebut antara lain berkenaan dengan risiko ekonomi, risiko yang disebabkan oleh alam, dan risiko yang disebabkan oleh perilaku manusia. 

Beberapa bentuk risiko yang datang memang tidak selalu bisa dihindari, maka perusahaan harus melakukan aktivitas khusus menyangkut kepemimpinan, pengarahan, pengembangan personal, perencanaan, dan pengawasan terhadap kemungkinan terjadinya risiko maupun ketidakpastian tersebut. Perusahaan memerlukan sebuah mekanisme baru untuk merealisasikan tujuan tersebut dengan membangun sebuah manajemen risiko.

Manajemen risiko adalah sebagai serangkaian prosedur atau cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, mengelola, dan mengendalikan risiko yang mungkin saja akan timbul dari suatu kegiatan operasional perusahaan. Selain itu, manajemen risiko adalah sebagai suatu pendekatan terstruktur atau metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman murni perusahaan.

Penetapan manajemen risiko bagi perusahaan secara prosedural maupun teknik memiliki tujuan agar perusahaan bisa mengidentifikasi dan mengungkapkan sasaran perusahaan. Selain itu, perusahaan juga akan lebih mudah menjangkau lingkungan sasaran akan dicapai, stakeholders yang berkepentingan, dan keberagaman kriteria risiko yang akan dihadapi nantinya. Dengan adanya manajemen risiko, maka perusahaan akan terbantu dalam mengungkapkan dan menilai sifat kompleksitas dari risiko yang akan dihadapi nantinya.

Prosedural di dalam manajemen risiko sangat berkaitan dengan penetapan tujuan, strategi, ruang lingkup, dan parameter-parameter lain dalam proses pengelolaan risiko suatu perusahaan. Adanya manajemen risiko bisa menunjukkan kaitan atau hubungan antara permasalahan yang akan dikelola beserta dengan risikonya. Cakupan ketidakpastian juga sangat luas, bisa dari lingkungan perusahaan (eksternal & internal), proses manajemen risiko, ukuran risiko, atau kriteria risiko yang akan dijadikan standar dalam menetapkan visi, misi, dan tujuannya.

Baca juga : Tips Memilih Supplier Dalam Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management)

Bentuk-Bentuk Risiko

source : www.freepik.com

Sejak awal melakukan aktivitas operasional, setiap perusahaan akan menghadapi risiko yang beragam jenisnya dan berbeda satu sama lain. Misalnya risiko kecelakaan, kebakaran, risiko kerugian, fluktuasi kurs, perubahan tingkat bunga, dan lain sebagainya. Namun, secara umum ada 2 jenis risiko yang mungkin saja terjadi, yaitu pure risk dan speculative risk.

1. Pure Risk

Pure risk atau risiko murni merupakan risiko yang memungkinkan perusahaan akan mengalami kerugian tanpa ada kemungkinan untung sama sekali. Beberapa bentuk risiko murni misalnya kecelakaan, kebakaran, banjir, dan lain sebagainya. Risiko jenis ini cenderung berdampak pada berkurangnya atau hilangnya fungsi dari sarana dan prasarana yang dimiliki perusahaan. Untuk menghindari kerugian yang besar dari risiko murni, banyak perusahaan yang berurusan dengan layanan jasa asuransi.

Namun, risiko murni juga bisa terjadi karena faktor keputusan manajemen. Misalnya dalam merekrut karyawan, membuat kontrak kerja, dan lain sebagainya.

2. Speculative Risk

Risiko spekulatif merupakan risiko yang kadar kerugiannya berkaitan pula dengan potensi keuntungan. Contoh risiko spekulatif adalah keputusan perusahaan untuk menanamkan modal atau membeli saham. Dalam kondisi tertentu, nilai saham bisa menurun dan bisa juga naik, sehingga risiko kerugian dan keuntungan yang mungkin diperoleh perusahaan masih berupa spekulasi.

Beberapa bentuk lain dari risiko spekulatif misalnya risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, dan risiko kredit.

Jenis-Jenis Manajemen Risiko

source : www.freepik.com

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, ada banyak bentuk risiko yang mungkin akan dihadapi oleh perusahaan. Maka dari itu, setiap perusahaan membutuhkan mekanisme tersendiri untuk mengelola setiap risiko atau ketidakpastian yang ada. Secara garis besar, ada 3 manajemen risiko yang harus ada, yaitu finansial,  operasional, dan  strategis. Setiap manajemen memiliki fungsi dan tujuan berbeda dalam pengelolaan risiko.

1. Manajemen Risiko Finansial

Manajemen risiko finansial merupakan sistem dan mekanisme untuk mengelola berbagai macam risiko yang berkaitan dengan aset perusahaan, keuntungan bisnis, dan sumber daya lain yang bernilai secara materi. Tidak jarang perusahaan menghadapi risiko berupa kegagalan dan ketidakmampuan dalam mengelola keuangan. Manajemen risiko finansial dibutuhkan untuk mengatasi cashflow yang berantakan, pencatatan keuangan yang tidak teratur, dan tunggakan hutang perusahaan yang menumpuk. Selain itu, ada beberapa efek dari ketidakmampuan mengelola risiko finansial lain yang harus dihindari seperti likuiditas, kredit, dan pajak.

2. Manajemen Risiko Operasional

Manajemen risiko operasional berfungsi untuk menghilangkan risiko atau ketidakpastian yang mungkin akan merugikan dari internal perusahaan. Perusahaan membutuhkan mekanisme yang mumpuni untuk menghilangkan dampak buruk dari kelalaian manusia (human error) atau sistem yang tidak teroptimasi dengan baik. Selain itu, beberapa faktor eksternal perlu disikapi dengan manajemen risiko operasional seperti terjadinya bencana. Tujuan utama dari manajemen risiko operasional adalah mengatasi risiko agar kondisi perusahaan tetap dalam keadaan baik.

3. Manajemen Risiko Strategis

Manajemen risiko strategis merupakan jenis manajemen risiko yang berguna untuk menghindarkan kemungkinan terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan. Perusahaan yang telah melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan akan mengalami ketidaklancaran proses bisnis. Maka dari itu, diperlukan mekanisme yang tepat untuk mengelola risiko strategis. 

Baca juga : Segala Hal Tentang Procurement Dan E-Procurement System

Tujuan Manajemen Risiko

Jika ditinjau dari pengertian dan jenis-jenis dari manajemen risiko, maka salah satu tujuan yang pasti diinginkan oleh perusahaan adalah meminimalisir risiko yang timbul. Namun, ada beberapa tujuan lain dari manajemen risiko, yaitu :

  • Agar perusahaan mendapatkan perlindungan atas tingkat risiko kerugian yang bisa menghambat proses pencapaian tujuan perusahaan.
  • Membantu setiap divisi perusahaan dalam proses pembuatan kerangka kerja yang lebih konsisten dan terarah.
  • membantu menyelaraskan fungsi-fungsi yang ada di dalam sebuah perusahaan.
  • mendorong manajemen menjadi lebih proaktif 
  • Sebagai sumber keunggulan bersaing dalam kinerja perusahaan.
  • Membantu dalam meningkatkan kinerja perusahaan 
  • Membantu perusahaan dalam pengembangan strategi dan perbaikan atas proses risk management (manajemen risiko) secara berkesinambungan.

Proses Manajemen Risiko

source : www.freepik.com

Perusahaan tentu saja sadar bahwa risiko selalu ada, bisa muncul setiap saat, dan sulit dihindari. Jika risiko tersebut menimpa suatu perusahaan, maka perusahaan tersebut bisa mengalami kerugian yang signifikan. Dalam beberapa keadaan, risiko bisa mengakibatkan kehancuran bagi perusahaan. Maka dari itu, risiko sangat penting untuk dikelola dengan manajemen risiko yang terstruktur. 

Setiap perusahaan akan menghadapi banyak risiko dengan kadar yang berbeda satu sama lain. Jika perusahaan tidak bisa mengelola risiko dengan baik, maka perusahaan tidak akan bisa bertahan. Manajemen risiko yang optimal akan membantu perusahaan untuk meraih potensi keuntungan di balik risiko yang telah terjadi. 

Manajemen risiko pada dasarnya dilakukan melalui beberapa proses seperti Identifikasi risiko, evaluasi, pengukuran, dan pengelolaan.

1. Perencanaan Manajemen Risiko

Perusahaan bisa memulai proses manajemen risiko dengan melakukan perencanaan. Proses ini biasanya dilakukan dengan menetapkan visi, misi, dan tujuan yang berkaitan dengan yang sudah disusun. Pada proses perencanaan, perusahaan juga bisa menetapkan target, kebijakan, dan prosedur yang berkaitan dengan manajemen risiko. Untuk ketercapaian yang lebih baik, perusahaan bisa menuangkan secara tertulis dari setiap visi, misi, kebijakan, dan prosedurnya. Jika perencanaan tersebut tertulis, maka akan semakin menegaskan dukungan manajemen terhadap program manajemen risiko yang dibuat.

2. Identifikasi risiko

source : www.freepik.com

Proses identifikasi risiko bisa dilakukan dengan melakukan analisis terlebih dahulu terhadap karakteristik risiko yang melekat pada perusahaan. Misalnya risiko dari produk dan kegiatan usaha yang diidentifikasikan secara berkala. Perusahaan wajib melakukan identifikasi risiko pada seluruh produk dan aktivitas bisnis sehingga bisa menganalisis seluruh sumber risiko. Proses diperlukan agar perusahaan bisa memastikan bahwa risiko dari produk dan aktivitas baru sudah melalui proses manajemen risiko yang layak.

Jika risiko tidak bisa diidentifikasi, maka perusahaan tidak akan bisa mengukur risiko dan tidak bisa pula mengelola risiko. Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, ada dua bentuk risiko, yaitu risiko murni dan risiko spekulatif (risiko bisnis). Kedua bentuk risiko tersebut memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dalam proses pengukurannya nanti juga akan berbeda. Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan perusahaan untuk mengidentifikasi risiko, yaitu melakukan analisis sekuen risiko, menganalisis sumber-sumber risiko, atau menggunakan beberapa data pendukung (laporan keuangan, flowchart, kontrak kerja, dan lain sebagainya).

Baca juga : Segala Hal Tentang Procurement Dan E-Procurement System

3. Pengukuran risiko

Setelah melakukan identifikasi risiko, proses dalam manajemen risiko selanjutnya bisa dilakukan dengan mengukur risiko. Cara ini harus sistematis agar dapat mengukur secara efektif tinggi rendahnya risiko yang dihadapi perusahaan. Perusahaan bisa melakukan tindakan kumulatif terhadap untung dan rugi yang mungkin terjadi dari setiap risiko yang telah diidentifikasi. 

Melalui proses pengukuran risiko, perusahaan akan tahu tindakan yang akan diambil jika risiko datang untuk mengurangi kerugian bahkan mengambil keuntungan dari risiko tersebut. Namun, tujuan utama dari pengukuran risiko ini sebenarnya untuk meninjau kemampuan finansial perusahaan ketika risiko benar-benar datang.

4. Evaluasi Risiko

Evaluasi risiko harus dilakukan secara berkala terhadap kesesuaian asumsi, sumber data, dan prosedur yang digunakan. Perusahaan bisa melakukan setiap 3 bulan atau 6 bulan dengan mempertimbangkan perkembangan usaha dan kondisi eksternal yang mempengaruhi kondisi perusahaan. Dalam proses evaluasi risiko, perusahaan harus mengambil langkah untuk penyempurnaan dalam sistem pengukuran risiko. Tindakan ini dilakukan jika terdapat perubahan kegiatan usaha, produk, transaksi, dan faktor risiko lain yang bersifat material. Intinya, evaluasi risiko menjadi proses yang dapat mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan.

Baca juga : Big Data Dan Bidang Usaha Big Data Di Indonesia

5. Pengelolaan Risiko

source : www.freepik.com

Risiko yang datang harus dikelola dengan baik, karena jika gagal mengelola akan melahirkan konsekuensi yang cukup serius atau kerugian yang besar. Dalam proses ini, perusahaan harus memiliki sistem pengelolaan risiko yang memadai. Keputusan yang diambil untuk penanganan risiko harus mengacu pada kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan. Ketika melakukan pengendalian risiko, perusahaan harus bisa menyesuaikan dengan eksposur risiko (tingkat risiko) yang akan diambil. Dengan demikian, perusahaan akan terhindar dari dampak kerugian yang sangat besar. Bahkan, perusahaan bisa menghilangkan sepenuhnya kerugian dari risiko yang muncul. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengelola risiko, yaitu : 

  • Risk Avoidance (menghindari risiko), yaitu mengambil tindakan untuk menghindari risiko-risiko yang akan terjadi. 
  • Risk Reduction (mengurangi dampak risiko), yaitu tindakan untuk mengurangi dampak yang telah terjadi seperti melakukan pengendalian secara lebih rutin terhadap internal perusahaan.
  • Risk Transfer (memindahkan risiko), yaitu mengelola risiko dengan cara mentransfer terhadap pihak lain seperti layanan asuransi.
  • Risk Retention (menghadapi risiko), yaitu menghadapi risiko dengan segala kemungkinan (untung atau rugi) yang akan didapatkan.

Kunci sukses perusahaan dalam pengelolaan risiko adalah adanya manajemen risiko yang berkualitas pada semua tingkatan. Manajemen ini berperan juga sebagai pengambil keputusan di tingkat transaksi karena akan melaksanakan pekerjaan untuk menghadapi risiko finansial dan operasional. Maka dari itu, setiap perusahaan harus mendukung manajemen risiko dengan budaya organisasi, sistem, struktur, dan unsur-unsur lain yang baik pula. 

Baca juga : Dasar-Dasar Leadership Dalam Manajemen Perusahaan

Dalam manajemen risiko operasional, sangat penting bagi perusahaan untuk membangun sistem yang baik agar terhindar dari ketidakpastian operasional. Misalnya, perusahaan memberikan fasilitas yang memudahkan para tenaga penjual. Dengan fasilitas tersebut, maka perusahaan akan terhindar dari risiko operasional yang merugikan. Penjualan yang tidak kunjung meningkat dan tidak mencapai target merupakan risiko besar yang dihadapi oleh perusahaan dan tenaga penjualan. Maka dari itu, pastikan perusahaan memberikan fasilitas terbaik untuk divisi atau tim penjualannya.

Salah satu cara menghindari risikonya adalah dengan memberikan tools penjualan terbaik, yaitu Aplikasi SimpliDOTS Sales Force Automation (SFA). Dengan aplikasi ini, perusahaan Anda akan terhindar dari human error dan segala risiko merugikan ke depannya. Untuk mendapatkan aplikasi SimpliDOTS Sales Force Automation (SFA), Anda bisa melakukan registrasi dan order di sini.