Sales Taking Order: Arti, Tugas, Cara Kerja & Aplikasi
Sales taking order adalah metode penjualan ketika sales mengunjungi pelanggan atau outlet untuk memeriksa kebutuhan, menawarkan produk, lalu mencatat pesanan yang akan diproses dan dikirim kemudian. Dalam bisnis distribusi, proses ini menghubungkan kunjungan sales, data pelanggan, stok, harga, promo, persetujuan order, gudang, pengiriman, dan penagihan.
Bayangkan seorang sales tiba di sebuah toko yang sudah menjadi pelanggan tetap. Pemilik toko membutuhkan beberapa produk, tetapi ia juga ingin memastikan harga, promo, dan jadwal pengiriman. Jika sales masih mengandalkan catatan kertas atau pesan singkat, satu kesalahan kecil dapat merambat ke banyak bagian: admin harus mengetik ulang pesanan, gudang menyiapkan SKU yang keliru, sedangkan pelanggan menerima barang yang tidak sesuai.
Karena itu, taking order bukan sekadar kegiatan menerima daftar belanja. Proses ini menjadi titik awal dari pemenuhan pesanan yang rapi. Oracle menjelaskan bahwa order management mencakup pencatatan, pelacakan, dan pemenuhan pesanan pelanggan sejak order dibuat sampai barang diterima. Dalam konteks distributor Indonesia, sales taking order menjalankan bagian penting dari tahap pencatatan tersebut langsung di lapangan.
Apa Itu Sales Taking Order?

Secara sederhana, taking order artinya mengambil atau mencatat pesanan pelanggan. Sales biasanya mengikuti jadwal kunjungan, membuka data outlet, mengecek kebutuhan, menyampaikan produk dan promo yang berlaku, kemudian memasukkan jumlah barang yang dipesan. Pesanan tersebut tidak selalu langsung dibawa oleh sales karena gudang dan tim pengiriman dapat memprosesnya setelah order dikonfirmasi.
Metode ini umum digunakan distributor FMCG, farmasi, suku cadang, bahan bangunan, dan perusahaan lain yang melayani banyak outlet. Hubungan antara perusahaan dan outlet biasanya sudah terbentuk. Oleh sebab itu, fokus sales bukan hanya memperoleh pelanggan baru, melainkan menjaga repeat order, ketersediaan produk, ketepatan pelayanan, serta hubungan jangka panjang.
Sales taking order juga berbeda dari sekadar menerima pesanan lewat telepon. Dalam kunjungan, sales dapat melihat kondisi outlet, memahami pergerakan produk, mengevaluasi peluang penambahan SKU, dan mencatat kendala pelanggan. Data ini menjadi berguna apabila perusahaan menyimpannya secara konsisten dan dapat menghubungkannya dengan transaksi.
Perbedaan Sales Taking Order, Canvassing, dan Motoris
Ketiga metode tersebut sama-sama melibatkan aktivitas penjualan lapangan, tetapi tujuan dan alur barangnya berbeda. Pemisahan peran penting agar perusahaan dapat mengatur target, stok, kendaraan, serta indikator kinerja secara adil.
| Aspek | Taking Order | Canvassing | Motoris |
|---|---|---|---|
| Fokus | Repeat order dan kebutuhan outlet aktif | Akuisisi atau transaksi di area sasaran | Menjangkau toko melalui kendaraan roda dua |
| Alur barang | Dikirim setelah order diproses | Dapat dibawa dan dijual langsung dari stok canvass | Umumnya membawa stok terbatas |
| Pelanggan | Outlet terdaftar atau pelanggan rutin | Outlet baru maupun outlet aktif | Warung atau toko pada rute yang padat |
| KPI utama | Productive call, nilai order, SKU per order | Outlet baru, penjualan langsung, strike rate | Coverage, penjualan, dan produktivitas rute |
Apabila Anda ingin memahami metode pembukaan pasar dan transaksi langsung lebih jauh, baca panduan sales canvassing. Memisahkan kedua intent ini juga membantu pembaca menemukan jawaban yang tepat tanpa membuat dua halaman membahas pokok yang sama.
Bagaimana Cara Kerja Sales Taking Order?

Proses taking order yang sehat memiliki alur jelas dari persiapan sampai evaluasi. Berikut rangkaian yang dapat dijadikan dasar SOP:
- Menyiapkan call plan. Supervisor mengatur outlet yang perlu dikunjungi berdasarkan wilayah, frekuensi, histori transaksi, atau potensi penjualan.
- Membuka informasi outlet. Sales memeriksa alamat, kontak, riwayat pesanan, status pembayaran, produk yang biasa dibeli, serta catatan kunjungan sebelumnya.
- Melakukan kunjungan. Sales mengonfirmasi kehadiran sesuai kebijakan perusahaan, kemudian mengecek kebutuhan pelanggan dan kondisi produk.
- Menyampaikan penawaran. Sales menjelaskan produk, harga, program promo, minimum order, dan perkiraan pengiriman berdasarkan informasi yang berlaku.
- Mencatat pesanan. Produk, kuantitas, satuan, potongan, alamat pengiriman, dan catatan pelanggan dimasukkan dengan teliti.
- Menjalankan validasi. Sistem atau pihak berwenang memeriksa aturan harga, promo, batas kredit, ketersediaan stok, dan kelengkapan data.
- Meneruskan pemenuhan. Order yang disetujui diteruskan ke gudang, pengiriman, invoice, dan penagihan sesuai proses perusahaan.
- Mengevaluasi hasil. Supervisor membandingkan rencana kunjungan, productive call, nilai order, produk terjual, pembatalan, dan kendala lapangan.
Alur tersebut membuat satu transaksi dapat ditelusuri tanpa bergantung pada ingatan sales atau percakapan yang tercecer. Namun, perusahaan tetap harus menentukan siapa yang berhak mengubah harga, menyetujui diskon, menahan order, atau membatalkan transaksi.
Tugas Sales Taking Order
Tugas sales taking order tidak berhenti setelah menekan tombol simpan. Ia mewakili perusahaan di hadapan pelanggan sekaligus menjaga kualitas data yang digunakan oleh tim lain. Karena itu, tanggung jawabnya mencakup beberapa bagian yang saling terhubung.
1. Menjaga jadwal dan kualitas kunjungan
Sales perlu mendatangi outlet sesuai call plan, menggunakan waktu kunjungan dengan efektif, dan mencatat hasilnya. Kunjungan yang banyak belum tentu produktif apabila pelanggan tidak mendapatkan solusi atau tidak ada tindak lanjut yang jelas.
2. Menggali kebutuhan outlet
Sales sebaiknya tidak hanya bertanya, “Mau pesan apa?” Ia perlu memahami stok yang bergerak, produk yang mulai habis, respons konsumen, dan kesempatan menambah variasi produk. Pendekatan ini membuat pesanan lebih relevan dan membantu outlet menjaga ketersediaan barang.
3. Memastikan informasi penawaran akurat
Harga, promo, syarat pembayaran, dan jadwal pengiriman harus mengikuti kebijakan yang berlaku. Informasi yang berbeda antara sales dan kantor dapat menimbulkan koreksi order, komplain, bahkan hilangnya kepercayaan pelanggan.
4. Mencatat pesanan secara lengkap
Sales wajib memeriksa SKU, jumlah, satuan, diskon, alamat, dan catatan khusus. Jika terdapat perubahan, jejak koreksinya juga perlu tersimpan. Data yang lengkap mengurangi pertanyaan berulang dari admin, gudang, dan tim delivery.
5. Menjaga hubungan dan tindak lanjut
Setelah order dibuat, sales tetap perlu membantu pelanggan memperoleh informasi status yang relevan. Ketika terjadi kekosongan barang, koreksi, atau retur, komunikasi yang cepat membantu menjaga pengalaman pelanggan.
Risiko Taking Order yang Masih Manual
Kertas, spreadsheet, dan grup percakapan mungkin masih terasa cukup ketika transaksi sedikit. Akan tetapi, risikonya meningkat ketika jumlah sales, outlet, SKU, harga, dan program promosi bertambah.
- Admin harus memasukkan ulang data sehingga proses menjadi lebih panjang.
- Nama produk, satuan, jumlah, atau diskon dapat salah dibaca.
- Sales memakai daftar harga atau promo yang sudah tidak berlaku.
- Pesanan terlambat diteruskan ke gudang dan pengiriman.
- Status order sulit dijelaskan kepada pelanggan.
- Supervisor memperoleh laporan setelah masalah terlanjur terjadi.
- Riwayat outlet tersebar dan sulit digunakan untuk evaluasi.
Digitalisasi tidak otomatis menghapus seluruh masalah. Sistem tetap membutuhkan data master yang bersih, SOP, koneksi yang memadai, pelatihan, dan disiplin pengguna. Namun, proses digital menyediakan fondasi agar data dapat divalidasi, diteruskan, dan ditelusuri dengan lebih konsisten.
Apa Itu Aplikasi Sales Taking Order?

Aplikasi sales taking order adalah perangkat lunak yang membantu sales lapangan mengakses informasi pelanggan dan mencatat pesanan melalui ponsel atau tablet. Data kemudian diteruskan ke dashboard atau sistem kantor sesuai konfigurasi perusahaan.
Fitur yang dibutuhkan sebaiknya mengikuti masalah operasional, bukan sekadar daftar yang terlihat panjang. Untuk distributor, kemampuan penting biasanya meliputi customer master, katalog produk, harga dan promo, informasi stok, sales order, retur, histori transaksi, geo-tagging, jadwal kunjungan, persetujuan, dashboard, dan integrasi dengan proses distribusi.
Taking order juga dapat menjadi bagian dari Sales Force Automation. SFA menghubungkan aktivitas sales lapangan—mulai dari jadwal, kunjungan, pesanan, hingga laporan—dengan kebutuhan supervisor. Sementara itu, DMS dapat memperluas aliran data menuju gudang, pengiriman, invoice, pembayaran, dan pelaporan distributor.
Bagi pembaca yang sudah memahami proses dasarnya dan sedang menilai solusi, lanjutkan ke panduan aplikasi taking order untuk distributor. Artikel tersebut harus tetap berfokus pada fitur, kebutuhan pembelian, dan pertimbangan solusi, sedangkan halaman ini menjadi rujukan utama untuk definisi, tugas, cara kerja, serta KPI.
Manfaat Taking Order Digital bagi Distributor

Manfaat utama taking order digital berasal dari aliran data yang lebih rapi. Sales tidak perlu menunggu kembali ke kantor untuk menyerahkan catatan. Admin mengurangi input ulang, sementara supervisor dapat melihat hasil berdasarkan data yang masuk ke sistem.
Selain itu, pelanggan menerima informasi yang lebih konsisten karena sales menggunakan sumber produk, harga, dan promo yang terkontrol. Gudang juga memperoleh detail order yang lebih jelas. Ketika volume transaksi meningkat, jejak digital membantu perusahaan menelusuri siapa yang membuat atau mengubah pesanan serta kapan perubahan terjadi.
Manfaat tersebut tidak selalu muncul dalam besaran yang sama. Hasil dipengaruhi kualitas data, SOP, integrasi, adopsi pengguna, dan kedisiplinan evaluasi. Karena itu, perusahaan sebaiknya menetapkan kondisi awal sebelum implementasi, kemudian membandingkannya dengan hasil setelah sistem berjalan.
KPI Sales Taking Order yang Perlu Dipantau
KPI harus menggabungkan aktivitas, hasil, dan kualitas. Jika perusahaan hanya mengejar jumlah kunjungan, sales dapat terlihat sibuk tanpa menghasilkan order yang sehat. Sebaliknya, target nilai penjualan saja dapat mengabaikan pemerataan outlet dan kualitas layanan.
| KPI | Cara membaca | Kegunaan |
|---|---|---|
| Call completion | Kunjungan terlaksana dibanding rencana | Menilai disiplin call plan |
| Productive call | Kunjungan yang menghasilkan order | Mengukur produktivitas kunjungan |
| Average order value | Nilai rata-rata setiap pesanan | Melihat kedalaman transaksi |
| SKU per order | Rata-rata variasi produk per pesanan | Menilai pemerataan portofolio |
| Order accuracy | Pesanan tanpa koreksi dibanding total order | Mengukur kualitas input |
| Order cycle time | Waktu sejak order dibuat sampai tahap yang ditetapkan | Mendeteksi hambatan proses |
Perusahaan perlu mendefinisikan rumus, sumber data, periode, dan pengecualian setiap KPI. Dengan demikian, supervisor dapat memakai angka untuk coaching dan perbaikan proses, bukan hanya untuk memberi tekanan kepada tim.
Cara Menerapkan Sistem Taking Order
Mulailah dari masalah yang paling terasa. Apakah pesanan sering salah, laporan lambat, promo tidak konsisten, atau supervisor sulit melihat produktivitas kunjungan? Jawaban tersebut menentukan prioritas implementasi.
- Petakan alur saat ini. Catat perjalanan order dari outlet sampai pengiriman dan pembayaran.
- Bersihkan data master. Samakan kode pelanggan, SKU, satuan, harga, wilayah, dan identitas sales.
- Tetapkan SOP dan hak akses. Tentukan aturan diskon, perubahan order, approval, kredit, retur, dan pembatalan.
- Jalankan pilot terbatas. Pilih tim, wilayah, dan outlet yang cukup mewakili kondisi sebenarnya.
- Latih berdasarkan skenario. Gunakan contoh order normal, stok kosong, promo, perubahan kuantitas, dan gangguan koneksi.
- Ukur hasil. Bandingkan waktu proses, akurasi, productive call, keluhan, dan tingkat penggunaan dengan baseline.
- Perbaiki sebelum memperluas. Selesaikan masalah data dan SOP, kemudian terapkan ke wilayah berikutnya secara bertahap.
Pilih sistem berdasarkan kecocokan proses dan kesiapan tim. Anda dapat mempelajari kemampuan Sales Automation Platform SimpliDOTS untuk sales taking order, retur, kunjungan, geo-tagging, pembayaran pelanggan, dan pemantauan kinerja.
Ingin Merapikan Proses Taking Order?
Petakan alur kunjungan, pencatatan pesanan, stok, pengiriman, dan pelaporan bersama tim SimpliDOTS. Gunakan demo untuk menguji sistem dengan skenario kerja distributor Anda, bukan sekadar melihat daftar fitur.
Kesimpulan
Sales taking order adalah proses mencatat pesanan pelanggan melalui kunjungan yang terencana, kemudian meneruskannya menuju validasi dan pemenuhan. Perannya penting bagi distributor karena satu data order digunakan oleh banyak pihak, mulai dari sales, admin, supervisor, gudang, pengiriman, sampai penagihan.
Proses digital dapat membantu mempercepat aliran informasi, mengurangi input berulang, dan membuat aktivitas lebih mudah ditelusuri. Meskipun demikian, teknologi harus didukung data yang bersih, SOP yang jelas, pelatihan, serta evaluasi KPI. Ketika unsur tersebut berjalan bersama, taking order bukan hanya lebih cepat, tetapi juga lebih akurat dan siap mendukung pertumbuhan distribusi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Sales Taking Order
Apa itu sales taking order?
Sales taking order adalah metode penjualan ketika sales mengunjungi pelanggan atau outlet untuk memeriksa kebutuhan dan mencatat pesanan yang akan diproses serta dikirim kemudian.
Apa arti taking order?
Taking order artinya mengambil atau mencatat pesanan pelanggan. Dalam distribusi, prosesnya dapat mencakup pemilihan produk, kuantitas, harga, promo, alamat pengiriman, validasi, dan penerusan order.
Apa tugas sales taking order?
Tugasnya meliputi menjalankan jadwal kunjungan, memahami kebutuhan outlet, menjelaskan produk dan promo, mencatat pesanan secara akurat, menjaga hubungan pelanggan, serta menindaklanjuti kendala order.
Apa perbedaan taking order dan canvassing?
Taking order berfokus pada pencatatan pesanan, terutama dari outlet aktif, untuk diproses dan dikirim kemudian. Canvassing dapat berfokus pada pembukaan pasar atau transaksi langsung dengan membawa stok canvass.
Apa manfaat aplikasi sales taking order?
Aplikasi membantu sales mengakses data outlet dan mencatat pesanan melalui perangkat mobile. Data dapat diteruskan ke dashboard atau sistem kantor sehingga mengurangi input ulang dan memudahkan penelusuran proses.
KPI apa yang penting untuk sales taking order?
KPI yang dapat digunakan antara lain call completion, productive call, nilai rata-rata order, jumlah SKU per order, akurasi pesanan, dan waktu siklus order. Rumusnya perlu disesuaikan dengan proses perusahaan.
Apakah taking order termasuk Sales Force Automation?
Ya, taking order dapat menjadi salah satu fungsi Sales Force Automation. SFA biasanya menghubungkan jadwal kunjungan, data outlet, aktivitas lapangan, pesanan, dan laporan untuk sales serta supervisor.




