aplikasi distribusi

Aplikasi Distribusi Asal Kota Medan Ciptakan Teknologi Baru Bagi Distributor

TAK pernah ada kata ‘biasa’ di balik kisah manusia. Pun dua anak muda Medan ini, yang gelisah dengan persoalanan manusia di negerinya. Jowan dan Hendy lantas meramu ilmu yang diperoleh di Negeri Kangguru, kemu­dian menerapkannya atas tujuan sebuah resolusi untuk bangsa.

Status negara berkembang masih dikantongi Indonesia sampai saat ini. Bangsa ini masih terus berproses di antara tingginya laju perkembangan teknologi di dunia. Tak hanya menembus tentang sistem, cara, bahkan perilaku manusia pun lekat dengan perkembangan teknologi tadi. Teknologi pun dalam praktiknya turut andil mencetuskan gaya hidup baru sepanjang peradaban manusia.

Apalagi kini, tatkala sistem online menjamur di mana-mana, bukan hanya menciptakan perubahan pada perilaku, kebiasaan, pun secara tak langsung berpengaruh terhadap pergeseran sudut pandang manusia terhadap sesuatu. Termasuk menciptakan konflik di antara mereka yang pro konvensional versus pro teknologi. Persoalanan ekonomi adalah contoh riilnya. Mengerucut pada hal-hal yang berkaitan dengan praktik ekonomi berbasis fast-moving consumer goods . Sebutlah distribusi, produk, dan lain sebagainya.

Jadi cita-cita yang sama dimiliki Jowan dan Hendy, ingin membuka cakrawala pemikiran masyarakat Kota Medan demi sebuah perubahan yang positif. Tentu dalam praktiknya, dengan latar belakang pendidikan IT keduanya, menemukan formula untuk membantu menyelesaikan masalah yang dialami perusahaan di Indonesia, khususnya di Medan. Kebetulan keluarga Jowan sendiri bergerak di bidang distribusi, mereka melihat banyak masalah yang dialami perusahaan-perusahan distributor yang sebenarnya bisa dipermudah dengan teknologi.

“Poinnya adalah bagaimana membuat proses yang panjang menjadi lebih singkat atau simpel, akrab juga disebut simply. Dengan kata lain, bagaimana menghubungkan titik-titik, mengin­tegrasikan semua stakeholder termasuk pelanggan, karyawan, distributor, principal dan owner,” kata Founder Simplidots, Jowan Kosasih dan Hendy Sumanto, yang didampingi CTO Ginanjar Nugroho.

Apalagi Kota Medan merupakan kota sentra bisnis. Kota ini juga yang menghubungkan beberapa negara-negara Asia yang telah maju, seperti Malaysia dan Singapura.

“Beberapa masalah yang biasanya dialami itu berkaitan dengan informasi tentang pelanggan, produk, promo dan stok yang tidak up-to-date. Banyak pekerjaan yang dilakukan secara manual atau berulang, kinerja SDM yang tidak terukur dan analisis data yang sulit dan kompleks,” kata Jowan.

Menurut Jowan, teknologi adalah gaya hidup, dan saat ini cukup banyak masyarakat Kota Medan yang memiliki pikiran terbuka terhadap teknologi. Terbukti, banyak masyarakat yang menggunakan fasilitas teknologi sebagai wadah untuk menun­jukkan aktivitas pribadi dan bisnisnya. Malah akun-akun sosial media yang sederhana pun banyak menawarkan ragam penjualan produk di dalamnya. Tak bisa dipungkiri, kini cara-cara manual telah beralih pada cara yang berbasis teknologi.

Waktu dan Biaya

Setidaknya, ditambahkan Hendy, teknologi sangat membantu masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya. Selain menghemat waktu, memanfaat­kan teknologi dengan baik bisa menghemat biaya. “Formula teknologi ini sangat pas untuk perusahaan yang bergerak di bidang distributor produk. Setidaknya melalui teknologi, data dapat dianalisa secara visual dan interaktif,” ungkapnya.

Faktanya, menurut Jowan, tren bisnis di Kota Medan kini berkembang dengan pesat. Beberapa perusahaan bahkan telah memanfaatkan teknologi, beralih dari cara-cara yang manual. Meskipun tak dipungkiri dalam praktiknya tantangan dan kesulitan banyak ditemui. Salah satunya adalah pola pikir masyarakat terhadap prinsip formula teknologi baru itu.

“Biasanya itu terjadi pada masyarakat generasi pertama. Mereka sulit untuk menerima perubahan dan slit memahami istilah-istilah teknologi. Apalagi jika usahanya merupakan peninggalan warisan keluarga. Sedangkan masyarakat generasi kedua lebih terbuka untuk menerima, bahkan tak menolak untuk belajar,” jelasnya.

Persis yang diungkapkan Molin, salah satu pelaku bisnis di Kota Medan. Teknologi yang tepat sangat membantu aktivitas usahanya. Bukan sekadar menjadi tren, bahkan teknologi tepat guna telah berhembus menjadi gaya hidup para pelaku bisnis. Sekarang administrasi pekerjaannya jadi lebih praktis, tinggal cek dan approve, laporannya juga mudah dilihat dan informatif.

“Saya juga bisa tracking pengantaran dan jadwal kunjungan dengan fitur tracking-nya,” akunya. Sisi lain SDM masyarakat di Kota Medan juga menga­lami proses pembelajaran yang cukup panjang, artinya sangat dibutuhkan waktu pelatihan yang cukup panjang, dan paling penting tantangan membina suatu tim yang solid.

Secara pribadi, dengan pengalaman keduanya berproses di luar negeri, Jowan dan Hendy memetik hal sederhana di sana. Mereka bilang, jika masyarakat Kota Medan melakukan sesuai dengan pola, salah satunya berpikir terbuka dengan teknologi, maka kota ini sejatinya sedang menuju ambang kemajuan dan ekonomi yang sejahtera.

Meskipun tak bisa ditampik, bahwa tak semua orang siap dengan perubahan. Mirip pepatah bilang, “Lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalang­nya”. Namun menurut Jowan, terpenting treat your people right, and all good things will fall into place.

“Perlakukan tim dengan baik, karena jika mereka happy, mereka juga akan memberikan yang terbaik terhadap client dan menghasilkan yang terbaik bagi perusahaan,” pungkasnya tersenyum.

Sumber : http://harian.analisadaily.com/gaya-hidup/news/pro-teknologi-murah-dan-hemat/378765/2017/07/16

Berbagi dengan rekan anda
WhatsApp chat