Categories: Bisnis Sales & Marketing

19 teknik closing sales untuk melejitkan penjualan bisnis

Tahukah Anda? Dalam dunia bisnis, tak ada yang lebih penting dari closing atau yang mungkin lebih familiar dengan “deal”. Dalam aktivitas closing ini terjadi kesepakatan antara penjual dan pembeli yang kemudian melibatkan transaksi pembayaran di dalamnya.

Sudah pasti, kalau ada transaksi pembayaran, maka pundi-pundi rupiah akan mengalir masuk ke rekening Anda. Itulah mengapa, closing sangat penting dalam penjualan atau bisnis. Ada CLOSING, berarti ada UANG di REKENING!

Sesimpel itu memang. Tapi, apakah teknik closing juga simpel? Lalu, bagaimana sih caranya agar penjualan kita selalu “deal” dan closing? Apakah kita memang harus punya talenta berjualan sejak lahir? Atau, skill berjualan masih bisa dikembangkan dan diasah? Yuk, kita cek ulasan dulu berikut ini!

Fakta: Sales Closing Semakin Menantang

source : unsplash.com

Menurut Penelitian Hubspot, sebanyak 30% tenaga penjualan berpendapat bahwa kesepakatan sales closing kini menjadi lebih sulit dibanding dengan 2 sampai 3 tahun lalu (2017-2019).

Jika bisnis Anda jatuh dengan penjualan rata-rata closing di bawah 20%, itu berarti Anda harus meningkatkan permainan bisnis Anda.

Ada beberapa jenis tenaga penjualan atau sales person. Mulai dari yang suka membangun hubungan pribadi, atau salesman yang pekerja keras. Bahkan, ada juga salesman yang lebih suka menggunakan cara-caranya sendiri untuk memecahkan masalah.

Namun, terlepas dari hal itu, setiap tenaga penjualan yang Anda miliki mereka memiliki kelebihannya masing-masing. Sebaik dan sebagus apapun kualitas produk atau jasa yang Anda tawarkan, akan bergantung pada sejauh mana sales person Anda dalam berjualan. Terlebih lagi, jika sales person belum menguasai teknik sales closing.

Minggu bahkan berbulan-bulan kerja keras yang Anda lakukan untuk mencari calon klien bisnis, tentu akan sia-sia jika sales person tidak mampu melakukan sales closing.

Ibaratnya, closing adalah “pintu gerbang” terakhir yang wajib dilewati agar bisa membawa pulang kesuksesan yang maksimal.

Baca juga : 7 Manfaat Sales Gamification yang Terbukti Meningkatkan Penjualan

Sales Closing, Bukan Melulu Soal Membujuk Konsumen

Sales Closing tak selalu soal merayu atau  membujuk konsumen untuk membeli atau memilih bisnis yang Anda tawarkan. Secara khusus, sales closing bicara tentang mengapa bisnis Anda berbeda dari yang lain? Serta, apa saja berbagai manfaat dari produk yang Anda tawarkan?

Yang paling penting lagi adalah bahwa produk Anda menjawab segala permasalahan pelanggan Anda. Dengan begitu, sales closing atau “deal” akan segera terwujud.

Tentu saja, proses sales closing tidak semudah yang dilihat, dan tidak seindah yang didengar. Terkadang, banyak faktor yang mempengaruhi seseorang untuk mau membeli atau bertransaksi. Maka itu, saat ini muncul istilah “pemasaran berulang” pada pelanggan tertarget agar mereka bisa memantapkan keputusan untuk membeli.

Di sisi lain, tidak heran jika sekitar 28% sales person mengaku bahwa closing adalah bagian tersulit dari pekerjaan mereka. Selain memahami dan menguasai teknik sales closing, tentunya sales person juga harus memiliki attitude atau etika yang baik. Agar ketika ia sedang “menjual” tidak terkesan memaksa konsumen yang justru akan merusak hubungan bisnis dan reputasi bisnis Anda.

Jadi, Bagaimana Cara Teknik Closing yang Efektif?

Kemungkinan terbesar, closing tidak selalu terjadi hanya dalam satu panggilan telepon atau satu kali pertemuan. Namun, ada banyak cara yang bisa dilakukan agar calon pembeli Anda tertarik dan akhirnya mau membeli (closing).

Tak perlu lama-lama, mari kita bahas teknik sales closing penjualan untuk membantu Anda dalam melejitkan closing bisnis secara cepat dan lebih efektif.

1. Assumptive Closing

Yang pertama ialah teknik closing yang paling populer, Assumptive Closing. Teknik yang satu ini merupakan metode closing yang terbaik dan paling efektif, lho!

Bagaimana tidak, salesman bertindak untuk  mengasumsikan bahwa penawaran yang telah ia berikan sudah disetujui dan closing penjualan. Kenapa begitu? Terkadang, calon pelanggan tidak bisa memberikan keputusan secara cepat, tapi ia sangat tertarik dengan produk atau prospek bisnis tersebut.

Sebagai contoh, salesman bisa berkata,”Bila berkenan, bisa berikan KTP Anda? Nanti saya yang akan urus semua formulir pengajuan kartu kredit ini.”

Assumptive closing berfungsi dengan baik karena dianggap profesional dan dipakai sebagai bagian dari proses penjualan. Untuk menerapkannya secara efektif, Anda harus memiliki pemahaman yang jelas tentang kebutuhan dan keinginan pelanggan sebelumnya.

Jika Anda telah mendengarkan dengan baik dan sekiranya, pelanggan sudah cocok dengan solusi yang ditawarkan, maka tidak ada lagi hambatan untuk mengonfirmasi penawaran ini sebagai “sudah disetujui” dan mendorong si calon pelanggan secara profesional untuk melakukan transaksi pembayaran.

Baca juga : 3 Elemen Penting Untuk Mencapai Sales Force Yang Sukses

2. Take Away Closing

Teknik yang satu ini tentu tak asing lagi di telinga kalangan pebisnis di industri distribusi barang. Dengan metode ini, salesman bisa menawarkan produk yang eksklusif kepada calon pelanggan.

Sesuai konsepnya, Take Away Closing menawarkan barang yang bisa jadi tidak akan pernah ditawarkan lagi atau hanya ada 1 kali peluang yang bisa diambil si calon pelanggan.

Sebagai contoh,”Mobil terbaru ini cuma ada 3 sekarang di seluruh kota dan khusus hanya hari ini ada diskon 50% buat Anda. Kalau Anda nggak buru-buru order sekarang, mungkin harus tunggu inden 6 bulan lagi.”

Siapapun orangnya, tidak akan suka jika diminta menunggu, apalagi selama 6 bulan, benar? Untuk itu, take away closing yang ditambah strategi “diskon” akan sangat prospektif untuk meningkatkan peluang closing penjualan bisnis Anda.

3. Now or Never Closing

Teknik yang satu ini juga biasa disebut sebagai Urgency Close, yang berarti teknik penjualan yang akan menekan calon pelanggan untuk membuat suatu keputusan. Teknik yang satu ini akan bekerja saat digabungkan dengan diskon khusus, atau souvenir/ merchandise dalam jangka waktu yang terbatas.

Teknik The now or never closing sangat efektif digunakan dalam kondisi ketika calon pelanggan akan membeli produk kita. Hampir mirip dengan Teknik take away closing karena mendorong pelanggan untuk segera menyetujui tawaran yang diberikan.

Dengan teknik now or never closing, pelanggan akan merasa takut kehilangan diskon dan menganggap pembelian saat ini adalah sesuatu yang mendesak dan harus segera dilakukan.

Contoh yang paling umum dijumpai adalah “midnight sale” atau obral diskon ketika menjelang pergantian Tahun Baru di berbagai toko. Tepat jam 12 malam, pelanggan bisa berbelanja aneka barang dengan harga yang dipangkas 30%-90%. Mereka bisa membeli secara online atau ada juga beberapa mall yang tetap buka hingga jam 02.00 dini hari. Setelah lewat jam 00.00 – 01.00 diskon usai dan harga kembali normal.

Baca juga : Mengapa Bisnis Anda Tak Bisa Mengabaikan Sales Force Automation (SFA)?

4. Summary Closing

Pelaku bisnis yang menerapkan teknik ini melakukan penegasan kembali akan produk yang diharapkan untuk dibeli pelanggan, tentunya dengan pertimbangan manfaat dan nilainya dalam upaya “deal” dengan calon pelanggan.

Contoh penerapan Summary Closing seperti “Dengan menggunakan aplikasi kami, Anda bisa membuat laporan keuangan hanya dalam 3 klik. Selain itu, kami juga menawarkan paket layanan gratis untuk membantu Anda mempelajari fitur-fitur aplikasinya. Bagaimana kita bisa jadwalkan demo kapan?”

Summary Closing akan membantu calon pelanggan dalam memvisualisasikan apa yang akan mereka beli, serta bagaimana itu akan membantu nya. Dengan begitu, pelanggan merasa jauh lebih mudah dalam melakukan kesepakatan.

5. Something for Nothing Close

Pernahkah Anda mendengar sebuah ungkapan “Manusia cenderung membalas perbuatan baik”. Prinsip ini telah dibuktikan oleh Dr. Robert Cialdini untuk meraup untung dalam dunia bisnis.

Dengan membawa prinsip ini, teknik Something for Nothing Close akan sangat berguna. Memberikan suatu “imbalan” kepada calon pembeli, membuat kesempatan dibelinya produk Anda akan jauh lebih besar.

Dengan kata lain, kesampingkan biaya dan menawarkan diskon akan memikat pelanggan untuk menyepakati pembelian. Salah satu alasannya karena setiap orang pasti menyukai sesuatu yang gratis, pantas saja teknik ini sangat terbukti.

Sebagai contoh, “Kami yakin, layanan yang kami bawakan adalah yang Anda cari selama ini. Kami menawarkan diskon hingga 15%, bagaimana menurut Anda?”

Pemberian diskon tentu lebih menggiurkan bagi para pelanggan. Termasuk jika itu Anda. Benar, kan?

Baca juga : Sales Motoris, Kanvasing Dan Taking Order, Ini Perbedaannya

6. Objection Closing
source : unsplash.com

Setelah menjelaskan segala detail dari tawaran produk Anda, maka kini saatnya membuat “deal” dengan pelanggan. Sesuai namanya, teknik ini mengharuskan Anda untuk mengajukan pertanyaan spesifik kepada calon pelanggan untuk mencari tahu apakah mereka “keberatan” untuk membeli produk Anda.

Untuk mengatasi kekhawatiran pelanggan, ajukan beberapa pertanyaan umum seperti “Apakah ada alasan mengapa kami tidak bisa mengirimkan produk di bulan ini?”, atau “Apa ada hal lain yang Anda butuhkan?”

Objection Closing sangat berguna untuk diterapkan pada siklus penjualan yang tampak atau hampir terhenti. Setidaknya bisa Anda terapkan jika pelanggan enggan membuat keputusan.

7. Ben Franklin Closing

Sebagian besar pelaku bisnis mungkin sudah tak asing lagi dengan nama Benjamin Franklin. Tidak hanya menekuni bidang politisi, ia juga menjadi seorang pengusaha sukses dan cerdas.

Salah satu usahanya dalam mengembangkan bisnis ialah dengan strategi yang satu ini. Ben Franklin membuat daftar pro dan kontra dalam setiap keputusan, terutama kala ia merasa ragu akan pilihan yang dimilikinya.

Kemudian, dengan daftar pro dan kontra pada sebuah keputusan, teknik ini akan berguna untuk klien yang kurang yakin saat akan menekan kata “deal”.

Ketika membuat daftar pro dan kontra, jangan lupa menggambarkan poin-poin berharga dari produk Anda. Calon pelanggan akan melihat bahwa tingkat pro lebih tinggi, dan kemungkinan adanya keputusan jauh meningkat.

Ben Franklin Closing lebih terdengar seperti contoh,

“Seperti yang Anda lihat, smartphone ini cocok untuk mendukung aktivitas Anda sebagai pekerja. Sudah 5G, ada kamera depan dan belakang, dan RAMnya 6 GB. Cuma memang harganya sedikit lebih mahal dari budget Anda. Tapi, pasti akan sangat worth it untuk mendukung kinerja Anda, Pak.”

Ben Franklin menambahkan tentang sisi terbaik dan sedikit “kekurangan” dari produk agar calon pelanggan bisa lebih jelas memahami dan mempertimbangkan keputusannya. Tapi, tentunya dengan berbagai manfaat yang ditawarkan produk Anda, keinginan pelanggan untuk membeli akan jauh lebih besar.

Baca juga : Apa Itu Sales Force Automation (SFA) Bagi Perusahaan Distributor?

8. Sharp Angle Closing
source : unsplash.com

Teknik yang satu ini juga sering dikenal dengan nama The If  I – Will You Close.  Teknik closing ini akan memberikan prospek sesuai dengan yang pelanggan inginkan, namun juga menguntungkan bagi bisnis Anda.

Teknik Sharp Angle Closing paling baik diterapkan ketika calon pelanggan keberatan (seperti menginginkan diskon atau free service) pada penawaran yang Anda berikan.

Keinginan pelanggan dapat Anda wujudkan, tentu jika mereka membuat “deal” pembelian.

Teknik ini juga menjadi perpaduan yang bagus antara akomodasi dan pernyataan, sehingga pelanggan dapat merasa “menang” terhadap tawaran mereka dan menyelesaikan transaksi untuk Anda.

Pastikan meminta persetujuan marketing manager sebelum Anda menyepakatinya!

Penerapan If I – Will You Lose adalah sebagai berikut,

“Tentu, kami akan memberikan diskon pada produk yang Anda inginkan. Kalau begitu, bisakah kita deal sekarang, Pak?”

Dengan demikian, kemungkinan pelanggan akan menutup kesepakatan jauh lebih besar.

9. Needs Closing

Cara terbaik untuk membuat calon pelanggan setuju dengan penawaran produk Anda, yaitu dengan memuaskan segala kebutuhan yang mereka inginkan.

Teknik ini disebut dengan Needs Closing.

Jika Anda menemukan bagaimana produk memenuhi kebutuhan calon pelanggan, maka “deal” akan segera tercapai.

Sebelum itu, mintalah daftar apa saja yang mereka butuhkan. Tandai poin-poin kebutuhan yang dapat Anda penuhi. Tanyakan pertanyaan sederhana, seperti

“Kami punya banyak model dan merek kulkas, Pak. Kira-kira apakah bapak butuh kulkas yang kapasitasnya besar atau kecil?”

Ini akan menunjukkan dan membuktikan bagaimana bisnis Anda bisa membantu dan memberikan solusi bagi kebutuhan calon pelanggan. Tak perlu khawatir, metode ini selalu bekerja hampir di seluruh situasi penjualan. Berikan kombinasi dengan teknik lainnya untuk memudahkan menarik pelanggan.

Baca juga : Penjualan Lesu, Ada 5 Strategi Agar Tim Sales Tetap Semangat

10. Scale Closing
source : unsplash.com

Scale Closing merupakan teknik yang dapat membantu Anda dalam transisi dari tahap kualifikasi, menuju tahap closing. Teknik ini memungkinkan Anda dalam menentukan seberapa tertarik calon pelanggan atas produk yang ditawarkan, atau keberatan yang dimiliki olehnya.

Teknik ini juga sangat membantu untuk mengetahui langkah apa yang harus Anda lakukan untuk memenuhi kebutuhan calon pelanggan.

Scale Closing bisa terdengar seperti “Dari skala 1 sampai 5, seberapa tertarik Anda pada aplikasi kami?”

Jika calon pelanggan menjawab 1, Anda bisa menjawab,

“Okey, baik Pak. Kira-kira apakah ada kendala dalam aplikasi ini. Saya siap membantu.”

Jika calon pelanggan memiliki keberatan soal harga, Anda bisa mencoba memberi asumsi seperti,

“Tidak apa-apa, Pak. Kami paham kok, ada juga beberapa klien lain yang awalnya enggan beralih ke aplikasi kami, tetapi akhirnya mereka mulai mahir dan menemukan banyak fitur bermanfaat hanya dalam 2 bulan pertama pemakaian.”

Calon pelanggan akan memberikan asumsi yang bagus terhadap produk yang Anda tawarkan.

11. Visual Closing

Untuk menerapkan teknik Visual Closing, Anda membutuhkan alat bantu seperti bagan, video, atau daftar pro dan kontra.

Teknik ini sangat populer, terutama di kalangan sales marketing. Teknik ini cukup menarik menurut persepsi calon pelanggan.

Salah satu alasannya, “gambar dapat bernilai ribuan kata”, benar, kan?

Seseorang dapat memahami sesuatu berkali lipat lebih cepat dibanding dengan kata-kata. Calon pelanggan dapat menggambarkan maksud yang disampaikan. Seperti yang kita ketahui, otak akan bekerja 60 ribu kali cepat dibandingkan penggunaan kata-kata.

Oleh sebab itu, pastikan penggunaan alat bantu di atas dibuat semenarik mungkin.

Baca juga : Tak Hanya Uang, Ini 5 Cara Mengapresiasi Tim Sales Anda

12. Empath Closing

Closing tidak harus dilakukan dengan penuh tekanan. Jalan terbaik biasanya menggunakan rute empati, dimana dapat memungkinkan diri Anda untuk memahami situasi daripada calon pelanggan.

Biarkan mereka memiliki banyak waktu untuk berpikir, dibandingkan memaksa mereka untuk menutup kesepakatan. Selain itu, Empath Closing juga akan membangun ikatan khusus dengan pelanggan secara jangka panjang.

Hal ini bisa dicontohkan dengan “Oke tidak apa-apa, Bu, Kami akan menunggu. Mudah-mudahan kita bisa bekerjasama secepatnya.”

13. Inoffensive Closing

Teknik closing yang satu ini akan memudahkan klien untuk menjawab pertanyaan yang Anda ajukan sesuai harapan. Pertanyaan yang Anda ajukan untuk menegaskan informasi, mengkonfirmasi nilainya, serta menyarankan langkah-langkah yang harus Anda lakukan selanjutnya.

Teknik ini berjalan baik khususnya dengan prospek yang lebih menyukai proses diskusi, dibandingkan transaksi yang tiba-tiba. Dengan format tanya jawab, calon pembeli yang memegang kendali kemana arah percakapan.

Jika bingung, Inoffensive Closing bisa terdengar seperti,

“Jadi, saya ulangi kembali, bapak ingin agar websitenya nanti terdapat fitur chat, e-commerce, sekaligus pembayaran ya? Kira-kira apakah ada tambahan lain yang saya lewatkan dalam diskusi kali ini?”

Jika calon pembeli menjawab tidak, Anda bisa mengajukan beberapa pertanyaan seperti berikut,

a. Setelah pertemuan hari ini, apakah saya bisa langsung follow up proses pengerjaannya?

b.   Apakah rancangan website kami sudah  memenuhi kebutuhan Anda?

c.   Jika semuanya sudah ok, apakah bisa bisa bernegosiasi untuk penawaran harganya pak?

Dengan begitu, “deal” akan tercapai dengan lancar tanpa paksaan setiap pihak.

Baca juga : Jangan Keliru! Ini Bedanya Sales & Marketing yang Belum Anda Ketahui

14. Backwards Closing

Teknik Backwards Closing akan mengubah proses penjualan Anda, yang akan dimulai dengan menunjukkan referensi atau rekomendasi dari para pengguna bisnis Anda. The Balance Careers mengatakan bahwa teknik ini sangat bermanfaat untuk membuat calon pelanggan merasa nyaman, karena mereka merasa seperti Anda tidak menjual barang apapun.

Meski begitu, ketika Anda memulai pembicaraan, Anda dapat kembali ke tahap kualifikasi yaitu menggambarkan fitur dan manfaat bisnis Anda untuk mendapatkan “deal”.

Contoh Backwards Closing seperti,

“Apakah Anda tahu sebagian besar pengguna produk kami merasakan perubahan signifikan setelah minum obat herbal ini. Bahkan, produk kami juga direkomendasikan oleh para dokter di Rumah Sakit Umum Kota lho, Pak!”

15. Puppy Dog Closing
source : unsplash.com

Metode Puppy Dog Closing sangat efektif bagi proses penjualan Anda, karena memanfaatkan rasa cinta calon pelanggan terhadap produk Anda yang membuat mereka membeli produk tersebut.

Mari kita bahas mengapa teknik ini diberi nama Puppy Dog Closing? Seperti yang kita tahu, sebagian besar orang akan membawa anak anjing untuk beberapa hari sebelum mengembalikannya.

Sama halnya dengan “test drive” atau “try before you buy”. Ini berarti, Anda memberikan calon pelanggan kesempatan untuk menggunakan produk hingga mereka jatuh cinta dengan produk Anda.

Tentu saja Anda tidak mendorong mereka untuk membeli selepas “test drive”. Anda memberikan kesempatan pada calon pembeli untuk memutuskan sendiri apakah mereka bisa mendapatkan manfaat dari produk yang ditawarkan dengan mencoba sendiri.

Strategi ini bisa dicontohkan sebagai berikut:

“Silakan kirimkan email Anda hari ini, kami akan memberikan akun trial aplikasi ini secara GRATIS. Bagaimana, Anda mau mencoba aplikasi kami?”

Baca juga : Mengapa Sales Force Automation Begitu Dibutuhkan?

15. Hard Closing

Teknik selanjutnya adalah Teknik Hard Closing, Teknik akuntansi seperti “tutup buku” di waktu yang ditentukan. Teknik ini dilakukan setiap bulan atau kuartal, bahkan bisa di akhir tahun.

Hard Closing dapat membantu Anda dalam melakukan transaksi dengan pelanggan menjelang siklus penjualan. Hard Closing berada di luar kendali penjualan, yang berarti menciptakan tenggat waktu untuk sebuah keputusan. Daripada bingung, contoh Teknik Hard Closing adalah seperti,

“Tadi saya diberitahu tim sales, harga aplikasi kami akan naik per tanggal 30 nanti. Mumpung harga masih murah, apakah bapak tertarik mencoba sebelum tutup buku?”

16. Question Closing

Question Closing menggunakan pertanyaan untuk mencapai solusi ketika calon pelanggan keberatan akan tawaran Anda. Teknik closing ini sangat baik digunakan, terutama untuk mendapatkan peluang yang Anda kejar sambil belajar mengenai bisnis dan tantangan mereka.

Contohnya seperti,

“Terbukti kan, pak. Aplikasi kami bisa membuat laporan keuangan hanya dalam beberapa klik saja. Semuanya otomatis dan terintegrasi. Bagaimana, Anda setuju memakai aplikasi kami?”

Jika pelanggan menjawab ya, maka lanjutkan untuk membuat kesepakatan. Jika tidak, tanyakan mengapa aplikasi Anda gagal dalam menyelesaikan masalah mereka.

Baca juga : Keuntungan Sales Force Automation Bagi Sebuah Bisnis

17. Impending Event

Impending Event mengacu pada teknik penjualan yang menggunakan tenggat waktu atau waktu yang terbatas untuk melakukan sales closing, terutama pada tipe klien yang bisa membuat keputusan dengan cepat.

Contoh kondisi yang tepat untuk menerapkan teknik ini ketika ada perubahan mendadak pada produk Anda. Padahal, dikhawatirkan perubahan ini akan membuat pelanggan sedikit kecewa.

Anda perlu berhati-hati dalam menjalankan teknik yang satu ini. Sebab, jika Impending Event justru membuat pelanggan kecewa, maka proses closing tidak akan efektif, bukan?

Impending Event dapat dicontohkan seperti,

“Mohon maaf, dalam 3 hari ke depan, kami mengadakan maintenance database. Sehingga, aplikasi di perusahaan bapak sementara waktu tidak bisa digunakan. Haruskah kami menunda maintenance ini pak?”

18. Objection Solicitation

Teknik ini sangat erat dengan Question Closing dan Objection Solicitation. Kemiripan terletak dalam penggunaan pertanyaan untuk mendorong proses penjualan.

Perbedaan signifikan terletak pada mengidentifikasi kendala pelanggan karena tidak segera melakukan closing. Dengan mengetahui penyebabnya, maka akan lebih mudah melakukan sales closing.

Ajukan pertanyaan spesifik yang dapat membuat calon pelanggan menjelaskan apa yang menjadi kendalanya. Sehingga, Anda bisa mengetahui apa saja keberatan (objection) atau masalahnya, dan menemukan solusinya.

Teknik ini sangat berguna dalam siklus penjualan yang terhenti, atau calon pelanggan yang tampak enggan dalam membuat keputusan. Seperti contoh berikut,

“Apakah ada kendala yang bisa kami bantu pak, agar aplikasinya bisa segera diinstal minggu depan?”

Baca juga : Tentang Sales Force Automation (SFA) Secara Detail

19. The Probe for Opinion Closing

Dengan teknik ini, tenaga marketing meminta pendapat calon klien mengenai produk dan layanan yang ditawrakan. Banyak teknik closing yang efektif dengan menggunakan pertanyaan spesifik untuk mengetahui hambatan atau kendala yang menghalangi penjualan, salah satunya adalah Probe for Opinion Closing.

Jika Anda bertanya soal hambatan klien, Anda dapat mendengar masalah mereka dan dapat mengatasinya lebih cepat. Sehingga dapat mempercepat sales closing dan mencapai “deal”.

Teknik ini sangat efektif bila tenaga marketing ingin membangun hubungan dengan klien. Menanyakan pendapat klien untuk bisnis ke depannya dapat membuat klien merasa dipahami oleh bisnis Anda.

Salah satu contoh Teknik The Probe for Opinion Closing,

“Kami dengar dari tim keuangan Anda, aplikasi kami menurut mereka sangat cepat dalam membuat laporan secara otomatis. Bahkan, admin yang biasanya memakai spreadsheet selama 1 minggu, kini hanya butuh 5 menit merekap laporan. Bagaimana pendapat bapak tentang fitur aplikasi kami?”

Masih banyak teknik lainnya yang bisa Anda terapkan ketika Sales Closing. Dengan pertimbangan yang matang dan penerapan teknik sales closing terbaik, penjualan pada bisnis Anda akan melejit.

Share
Published by
astrid
Tags: Assumptive Closing Backwards Closing Ben Franklin Closing Empath Closing Fakta Sales Closing Hard Closing Impending Event Inoffensive Closing Needs Closing Now or Never Closing Objection Closing Objection Solicitation Puppy Dog Closing Question Closing Sales Scale Closing Sharp Angle Closing Something for Nothing Close Summary Closing Take Away Closing Tekni Penjualan Teknik Closing yang Efektif The Probe for Opinion Closing Tips Closing Visual Closing

Recent Posts

  • Bisnis
  • Distribusi

Memulai Bisnis Distribusi, Yuk Persiapkan Hal Penting Ini

Mau memulai bisnis distribusi? Pilihanmu sudah tepat. Usaha distribusi bisa menjadi pilihan yang prospektif sebagai lini usaha karena potensinya yang… Read More

  • Pemasaran
  • Penjualan
  • Strategi Bisnis

Bingung Menentukan Harga Jual Produk?

Harga mempunyai peranan yang penting sebagai alat bantu untuk sukses dalam strategi pemasaran. Mengapa? Karena penetapan harga merupakan bagian penting… Read More

  • Distribusi
  • Produk

Aplikasi Stok Barang : Solusi Mudah Membuat Berbagai Jenis Laporan Stok Barang

Agar bisnis lebih mudah dikelola dan dikembangkan, salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan adalah manajemen inventaris. Kamu harus mampu mengatur… Read More